Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten
Sosiologi memiliki akar yang dapat ditelusuri pada karya-karya para filsuf terkenal, termasuk Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Konfusius (551-479 SM). Beberapa cendekiawan awal juga mengadopsi pandangan yang memiliki dimensi sosiologis. Misalnya, sejarawan Cina Ma Tuan-Lin, yang pada abad ke-13, mengembangkan metode sejarah sosiologis
Jakarta pada awal tahun 1960an tidak terlepas dari aktivitas pembangunan. Mesin konstruksi bekerja siang malam, melakukan pembangunan. Di tengah krisis ekonomi yang menggerogoti, di saat utang luar negeri menggunung, dan di tengah ketidakstabilan politik dalam negeri, Soekarno memilih untuk mengejar ambisi, menantang logika, dan mengubah
Silsilah dan Leluhur Arya Wiraraja Silsilah dan leluhur Arya Wiraraja dapat ditelusuri dalam Babad Manik Angkeran. Babad Manik Angkeran adalah babad yang merekam peristiwa di kerajaan Kediri. Dalam babad ini diceritakan kisah tokoh yang bernama Danghyang Bajrasatwa. Berputra Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita. Berputra lima
Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan gubernur Syam pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan. Selama menjabat sebagai gubernur, Muawiyah membentuk kekuatan militer yang dapat memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Muawiyah tidak segan mengeluarkan harta benda untuk merekrut tentara bayaran yang mayoritas
Budaya adalah konsep yang sangat luas, bahkan para rekan sejawat dalam bidang sosiologi dan antropologi tidak memiliki definisi yang tetap mengenai istilah ini. Dalam bidang sosiologi, budaya didefinisikan sebagai kumpulan semua ide, keyakinan, perilaku, dan produk yang umumnya dimiliki dan dibuat oleh kelompok-kelompok sosial untuk
Kingdom of Heaven merupakan salah satu film kolosal yang mengambil setting di Jerusalem sekitar tahun 1180 Masehi. Film ini disutradai oleh Ridley Scott, sutradara yang sebelumnya meraih Oscar lewat film Gladiator (2000). Kingdom of Heaven mengambil cerita peperangan antara kerajaan Kristen dan Kerajaan Islam dalam
Film Perang merupakan genre film yang berfokus pada konflik serta pertempuran yang terjadi dalam konteks perang. Seringkali, film perang menampilkan karakter-karakter yang terlibat dalam konflik tersebut, baik sebagai tentara maupun warga sipil yang terdampak langsung oleh perang. Film perang dapat berlatar belakang pada konflik-konflik sejarah
Terdapat sebuah masa ketika biji Pala dan Cengkeh bernilai lebih mahal dari emas. Masa ini adalah dunia di abad ke-15 dan ke-16, dan pusat dari kekayaan itu ada di gugusan pulau kecil di timur Nusantara: Kepulauan Maluku. Dua kerajaan Islam kembar, Ternate dan Tidore, adalah