Lautan luas yang membentang di khatulistiwa, dipenuhi kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia. Angin muson membawa mereka melintasi Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan, bertemu di sebuah kepulauan yang kaya raya yaitu kepulauan Nusantara. Selama berabad-abad, wilayah ini menjadi jantung perdagangan global, tempat bertemunya para
Perkembangan Kondisi Perekonomian Indonesia Tahun 1966-1969 Kondisi ekonomi bangsa Indonesia mengalami permasalahan jauh sebelum terjadinya peristiwa G30S 1965. Pada tahun-tahun sebelum G30S 1965 terjadi, perekonomian Indonesia sudah dibebani dengan inflasi yang tinggi hingga lebih dari 250%.[1] Selain inflasi perekonomian, Indonesia juga mengalami defisit anggaran belanja
Perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari kolonialisme sudah ada jauh sejak zaman kerajaan. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa mengawali di Banten, begitu pula Laksmana Keumalahayati di Aceh hingga Sultan Agung. Di wilayah Indonesia Timur perlawanan tidak kalah sengit, di mana Sultan Hairun dan Baabbulah di Maluku
Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten
Pasca proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia terus mengalami kondisi yang dinamis. Kedatangan sekutu tahun 1945 misalnya, memicu berbagai pertempuran di berbagai kota. Salah satu kota yang mengalami pertempuran hebat diantaranya adalah Surabaya, Semarang, Medan hingga Bandung. Pertempuran-pertempuran ini terjadi terutama karena rakyat Indonesia tidak terima dengan
Silsilah dan Leluhur Arya Wiraraja Silsilah dan leluhur Arya Wiraraja dapat ditelusuri dalam Babad Manik Angkeran. Babad Manik Angkeran adalah babad yang merekam peristiwa di kerajaan Kediri. Dalam babad ini diceritakan kisah tokoh yang bernama Danghyang Bajrasatwa. Berputra Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita. Berputra lima
Perang, baik yang terjadi di masa modern seperti perang dunia II atau perang Vietnam, maupun yang terjadi di masa lampau seperti perang Spartan Hingga Troya, banyak diabadikan dalam bentuk film. Saking banyaknya film yang mengambil latar perang, genre film perang memiliki penggemar tersendiri. Film perang
Budaya adalah konsep yang sangat luas, bahkan para rekan sejawat dalam bidang sosiologi dan antropologi tidak memiliki definisi yang tetap mengenai istilah ini. Dalam bidang sosiologi, budaya didefinisikan sebagai kumpulan semua ide, keyakinan, perilaku, dan produk yang umumnya dimiliki dan dibuat oleh kelompok-kelompok sosial untuk