Pemikiran dan gagasan dari Hok Gie memiliki fokus kepada tiga hal utama, hal kebangsaan, hal kemahasiswaan dan hal kemanusiaan. Dalam catatan harian dan berbagai tulisan di surat kabar, ketiga hal ini selalu menjadi topik utama gagasan Hok Gie. Hal kebangsaan menyangkut pemikiran yang berhubungan dengan
Lautan luas yang membentang di khatulistiwa, dipenuhi kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia. Angin muson membawa mereka melintasi Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan, bertemu di sebuah kepulauan yang kaya raya yaitu kepulauan Nusantara. Selama berabad-abad, wilayah ini menjadi jantung perdagangan global, tempat bertemunya para
Referensi Sejarah Tegal dari Masa ke Masa Desertasi Anton Lucas yang kemudian dibukukan. Membahas gamblang Peristiwa Tiga daerah di Brebes, Tegal dan Pemalang tahun 1945. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa revolusi sosial pasca kemerdekaan yang marak terjadi di berbagai daerah sebagai reaksi atas kemerdekaan Republik
Catatan Sejarah Mengenai Tegal Salah satu catatan tertua yang menuliskan wilayah Tegal adalah Suma Oriental. Suma Oriental que trata do Mar Roxo ate aos Chins yang kurang lebih berarti Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri China, adalah catatan perjalanan yang ditulis Tome Pires
Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten
Perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari kolonialisme sudah ada jauh sejak zaman kerajaan. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa mengawali di Banten, begitu pula Laksmana Keumalahayati di Aceh hingga Sultan Agung. Di wilayah Indonesia Timur perlawanan tidak kalah sengit, di mana Sultan Hairun dan Baabbulah di Maluku