Perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari kolonialisme sudah ada jauh sejak zaman kerajaan. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa mengawali di Banten, begitu pula Laksmana Keumalahayati di Aceh hingga Sultan Agung. Di wilayah Indonesia Timur perlawanan tidak kalah sengit, di mana Sultan Hairun dan Baabbulah di Maluku

Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten

Kepulauan Banda. Nama ini membangkitkan bayangan surga tropis dengan laut biru jernih dan aroma pala yang semerbak. Di masa lampau, gugusan pulau kecil di Maluku Tengah ini adalah pusat ekonomi dunia, satu-satunya tempat di bumi di mana pohon Pala (Myristica Fragrans) tumbuh subur. Buah Pala

Lautan luas yang membentang di khatulistiwa, dipenuhi kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia. Angin muson membawa mereka melintasi Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan, bertemu di sebuah kepulauan yang kaya raya yaitu kepulauan Nusantara. Selama berabad-abad, wilayah ini menjadi jantung perdagangan global, tempat bertemunya para

Perang, baik yang terjadi di masa modern seperti perang dunia II atau perang Vietnam, maupun yang terjadi di masa lampau seperti perang Spartan Hingga Troya, banyak diabadikan dalam bentuk film. Saking banyaknya film yang mengambil latar perang, genre film perang memiliki penggemar tersendiri. Film perang

Sosiologi memiliki akar yang dapat ditelusuri pada karya-karya para filsuf terkenal, termasuk Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Konfusius (551-479 SM). Beberapa cendekiawan awal juga mengadopsi pandangan yang memiliki dimensi sosiologis. Misalnya, sejarawan Cina Ma Tuan-Lin, yang pada abad ke-13, mengembangkan metode sejarah sosiologis

Lihat modul ajar mata pelajaran sejarah Indonesia materi Demokrasi Parementer

Pada pertengahan abad ke-17, Kesultanan Mataram berdiri sebagai kekuatan dominan di Pulau Jawa. Di bawah pimpinan raja terbesarnya, Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), kerajaan ini telah menaklukkan hampir seluruh pulau. Surabaya, Madura, Pasuruan, dan sebagian besar Jawa Barat telah tunduk. Mataram adalah imperium agraris yang kaya

Pasca proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia terus mengalami kondisi yang dinamis. Kedatangan sekutu tahun 1945 misalnya, memicu berbagai pertempuran di berbagai kota. Salah satu kota yang mengalami pertempuran hebat diantaranya adalah Surabaya, Semarang, Medan hingga Bandung. Pertempuran-pertempuran ini terjadi terutama karena rakyat Indonesia tidak terima dengan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan tidak serta merta berakhir. Salah satu isu terpanjang dan paling menantang dalam sejarah diplomasi dan militer Indonesia adalah sengketa mengenai status Irian Barat (sekarang Papua dan Papua Barat). Wilayah yang terletak di ujung

Untuk Video Materi Sejarah, Lihat di Sini!

Traktir Kopi

Jika konten-konten di website ini memberi manfaat, kamu bisa mendukung keberlangsungan website ini dengan mentraktir kopi..

Ikuti Sosial Media Kami

Untuk terus mengikuti update dari kami, ikuti berbagai sosial media kami!