Memahami sejarah Nusantara terkadang terasa seperti menyusun potongan puzzle yang berserakan. Salah satu periode yang paling memikat sekaligus menantang untuk dipelajari adalah era Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Jejak-jejak kebesaran masa lalu ini tidak hanya tertinggal pada kemegahan candi-candi yang menjulang, tetapi juga terekam
Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten
Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan gubernur Syam pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan. Selama menjabat sebagai gubernur, Muawiyah membentuk kekuatan militer yang dapat memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Muawiyah tidak segan mengeluarkan harta benda untuk merekrut tentara bayaran yang mayoritas
Aktifitas Hok Gie di Organisasi Mahasiswa Luar Kampus Tahun 1962 Hok Gie bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) organisasi binaan Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Syahrir. Ketertarikan Hok Gie pada Gemsos terutama karena keberanian mereka untuk menentang rezim Soekarno. Di Gemsos Hok Gie bertugas untuk
Proses kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia merupakan sebuah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Menurut beberapa teori yang berkembang, nenek moyang bangsa Indonesia diperkirakan tiba di Nusantara sekitar 50.000 tahun yang lalu. Para nenek moyang Indonesia pertama kali tiba di wilayah ini melalui jalur
Budaya adalah konsep yang sangat luas, bahkan para rekan sejawat dalam bidang sosiologi dan antropologi tidak memiliki definisi yang tetap mengenai istilah ini. Dalam bidang sosiologi, budaya didefinisikan sebagai kumpulan semua ide, keyakinan, perilaku, dan produk yang umumnya dimiliki dan dibuat oleh kelompok-kelompok sosial untuk
Terusan Suez mulai dibangun pada tahun 1854 oleh seorang warga negara Prancis yang bernama Ferdinand de Lesseps. la memperoleh konsesi dari Said Pasha yang pada saat itu menjadi raja muda Mesir. Pada tanggal 16 November 1869 Terusan Suez yang berukuran panjang 169 km, lebar 150
Pemikiran dan gagasan dari Hok Gie memiliki fokus kepada tiga hal utama, hal kebangsaan, hal kemahasiswaan dan hal kemanusiaan. Dalam catatan harian dan berbagai tulisan di surat kabar, ketiga hal ini selalu menjadi topik utama gagasan Hok Gie. Hal kebangsaan menyangkut pemikiran yang berhubungan dengan