Terdapat sebuah masa ketika biji Pala dan Cengkeh bernilai lebih mahal dari emas. Masa ini adalah dunia di abad ke-15 dan ke-16, dan pusat dari kekayaan itu ada di gugusan pulau kecil di timur Nusantara: Kepulauan Maluku. Dua kerajaan Islam kembar, Ternate dan Tidore, adalah penguasa dari “Emas Hijau” ini.
Awal Sejarah Kerajaan Ternate Tidore di Maluku
Selama ratusan tahun, Ternate dan Tidore adalah peradaban yang makmur dan mandiri. Mereka berdagang dengan pedagang dari Jawa, Melayu, Tiongkok, dan Arab. Namun, ketika kapal-kapal layar tinggi berbendera Eropa akhirnya menemukan sumber rempah-rempah yang legendaris ini, semuanya berubah.
Ini adalah kisah bagaimana dua kesultanan bersaudara yang bersaing di Maluku terjebak dalam pusaran politik global, bagaimana undangan persahabatan berubah menjadi rantai penjajahan, dan bagaimana kekayaan rempah-rempah yang seharusnya menjadi berkah, justru menjadi kutukan yang merenggut kedaulatan mereka.
Ternate Tidore Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa
Wilayah Nusantara bagian timur, terutama kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, Timor, Papua hingga Sulawesi sebelum abad ke-14 memiliki banyak kerajaan dan kesultanan yang mendiami berbagai wilayah. Kondisi geografis wilayah ini yang terdiri dari ribuan pulau membuat kondisi ini mampu bertahan lama. Wilayah Maluku Utara termasuk di dalam wilayah yang memiliki banyak kesultanan-kesultanan. Jauh sebelum orang Eropa datang, Maluku Utara bukanlah wilayah tanpa konflik
Tahun 1322 diadakanlah pertemuan beberapa kesultanan yang ada di Maluku Utara. Diinisiasi oleh Kolano/Raja dari kerajaan Ternate. Pertemuan dilakukan di Pulau Moti yang kemudian melahirkan Perjanjian Moti. Isi dari perjanjian Moti secara garis besar adalah menyepakati penyeragaman struktur pemerintahan kerajaan dan pembagian wilayah teritorial masing masing kerajaan. Hasil kesepakatan wilayah beberapa kerajaan ini dikenal sebagai Moloku Kie Raha, atau “Empat Gunung Penguasa Maluku”. Empat kerajaan utama—Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan—berasal dari satu garis keturunan yang sama, namun terus-menerus bersaing untuk supremasi.
Dari empat kerajaan ini, dua yang paling kuat adalah Ternate dan Tidore. Persaingan mereka mendarah daging. Untuk memantapkan kekuatan, mereka membentuk dua aliansi atau persekutuan dagang yang saling berhadapan:
- Uli-Lima (Persekutuan Lima Bersaudara): Dipimpin oleh Ternate, persekutuan ini menguasai wilayah seperti Ambon, Bacan, Seram, dan Obi.
- Uli-Siwa (Persekutuan Sembilan Bersaudara): Dipimpin oleh Tidore, aliansi ini mencakup wilayah seperti Halmahera, Jailolo, hingga ke Papua.

Kedatangan Bangsa Eropa ke Ternate
Selama puluhan tahun, Ternate dan Tidore terlibat dalam perang silih berganti untuk memperebutkan hegemoni atas perdagangan rempah-rempah. Situasi politik ini—dua kekuatan besar yang saling curiga dan membenci—adalah panggung sempurna bagi drama yang akan segera tiba.
Ketika bangsa Eropa pertama tiba, mereka tidak datang sebagai penakluk. Mereka datang sebagai tamu—tamu bersenjata lengkap yang mencari kawan. Dan Ternate serta Tidore, yang lelah berperang satu sama lain, melihat para pendatang baru ini sebagai satu hal: sekutu yang bisa dimanfaatkan untuk mengalahkan rival abadi mereka.
Pada tahun 1512, kapal-kapal Portugis di bawah pimpinan Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao menjadi orang Eropa pertama yang mencapai Maluku. Sultan Ternate saat itu, Sultan Bayanullah (atau Abu Lais), segera melihat peluang. Sultan Ternate mengutus adiknya untuk menemui Portugis dan mengundang mereka ke Ternate. Tujuannya jelas: Ternate akan memasok cengkeh yang dibutuhkan Portugis, dan sebagai gantinya, Portugis akan memberikan bantuan militer untuk melawan Tidore.
Pada tahun 1522, Ternate memberikan izin kepada Portugis untuk membangun sebuah benteng yang diberi nama Benteng Santo Paulo (atau yang kelak dikenal sebagai Benteng Gamalama/Kastela). Ternate mengira mereka telah mendapatkan pelindung yang kuat. Mereka salah.
Kedatangan Bangsa Eropa ke Tidore
Tidore tidak tinggal diam, tidak kalah dengan Ternate, Tidore mencari sekutu dari bangsa Eropa. Sembilan tahun setelah Portugis tiba di Ternate, sisa-sisa armada ekspedisi keliling dunia Magellan dari Spanyol tiba di Tidore pada tahun 1521. Sultan Tidore, Sultan Mansur, menyambut Spanyol dengan tangan terbuka, sama seperti Ternate menyambut Portugis. Ia melihat Spanyol sebagai penyeimbang kekuatan Portugis yang kini telah bersekutu dengan musuh bebuyutannya.
Dalam sekejap, persaingan lokal antara Ternate dan Tidore telah berubah menjadi perang proksi global antara dua kekuatan raksasa Eropa: Portugal dan Spanyol. Spanyol dan Portugal sendiri sering berkonflik di berbagai wilayah di penjuru dunia. Dua kerajaan ini sejatinya memiliki kesamaan yaitu sama-sama kerajaan Katholik yang mmiliki misi Gospel ke seluruh dunia.
Pertarungan antara Portugis (di Ternate) dan Spanyol (di Tidore) tidak berlangsung lama. Di Eropa, kedua raja ini merasa lelah berperang di tempat yang begitu jauh. Akhirnya, atas mediasi Paus, mereka menandatangani Perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Isi perjanjian itu sangat merugikan Tidore: Spanyol harus angkat kaki dari Maluku dan memusatkan perhatian mereka di Filipina. Sementara Portugis dinyatakan berhak untuk tetap tinggal dan memonopoli perdagangan di Maluku.

Bagi Ternate, ini tampak seperti kemenangan. Musuh mereka (Spanyol) telah pergi. Namun, mereka segera menyadari bahwa bersekutu dengan Portugis tanpa ada penyeimbang adalah kesalahan yang jauh lebih besar.
Perlawanan Kerajaan Ternate Tidore Terhadap Portugis
Dengan Spanyol yang telah disingkirkan, Portugis mulai menunjukkan wajah aslinya. Mereka tidak lagi bertindak sebagai mitra dagang, tetapi sebagai penguasa. Mereka memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah, menentukan harga seenaknya, dan merugikan rakyat Ternate.
Pembunuhan Sultan Hairun dari Ternate oleh Kolonialis Portugis
Lebih buruk lagi, mereka mulai ikut campur dalam urusan internal Kesultanan. Gubernur Portugis bertindak seolah-olah mereka adalah raja di Ternate. Mereka memfitnah, mengasingkan, dan bahkan memaksa Sultan Tabariji (berkuasa 1532-1535) untuk masuk Kristen saat diasingkan di Goa, India.
Tindakan ini menyulut kemarahan Sultan Ternate berikutnya, Sultan Hairun (berkuasa 1535-1570). Sultan Hairun adalah pemimpin yang cerdas dan karismatik. Ia secara terbuka menentang monopoli Portugis dan mulai membangun aliansi untuk melawan mereka. Perlawanan yang dilancarkan oleh Sultan Hairun berlangsung bertahun-tahun, membuat Portugis kewalahan.
Menghadapi perlawanan Sultan Hairun yang banyak membawa kerugian, Gubernur Portugis, Lopez de Mesquita, merancang sebuah siasat licik. Pada tanggal 27 Februari 1570, ia berpura-pura ingin berdamai dan mengundang Sultan Hairun ke Benteng Santo Paulo untuk sebuah perundingan persahabatan.
Sultan Hairun, yang ingin menunjukkan niat baiknya, datang ke benteng tanpa pengawalan. Itu adalah kesalahan fatal. Begitu berada di dalam benteng, ia dikhianati dan dibunuh secara keji oleh tentara Portugis atas perintah sang gubernur.
Perlawanan Sultan Baabullah dari Ternate Terhadap Kolonialisme Portugis
Pembunuhan Sultan Hairun tidak mematahkan perlawanan rakyat Ternate. Sebaliknya, peristiwa itu menyatukan seluruh rakyat Maluku dalam kobaran api amarah. Rakyat Ternate bertekad akan menghancurkan Portugis dan mengusirnya dari wilayah Ternate dan Kepulauan Maluku.
Pusat perlawanan rakyat Ternate datang dari putra Sultan Hairun, Sultan Baabullah (berkuasa 1570-1583). Sultan Baabullah bersumpah untuk tidak beristirahat sebelum semua orang Portugis terusir dari tanah Maluku. Ia segera dinobatkan sebagai Sultan dan mengobarkan perang suci melawan Portugis. Perang ini tidak hanya didukung oleh Ternate, tetapi juga oleh Tidore, Jailolo, dan kerajaan-kerajaan lain di Maluku, bahkan sampai ke Jawa dan Mindanao. Untuk pertama kalinya, Maluku bersatu melawan musuh bersama.
Sultan Baabullah adalah seorang ahli strategi militer yang brilian. Alih-alih menyerang benteng secara langsung, ia melakukan pengepungan total selama lima tahun. Semua pos Portugis di luar benteng dihancurkan, dan pasokan makanan ke dalam benteng diputus.
Akhirnya, pada tahun 1575, setelah lima tahun terkepung, kelaparan, dan putus asa, Portugis menyerah. Sultan Baabullah, dalam kemenangannya, mengizinkan mereka meninggalkan Maluku dengan damai. Portugis melarikan diri ke Ambon dan kemudian ke Timor.
Ini adalah kemenangan terbesar rakyat Nusantara melawan kekuatan kolonial Eropa pada abad itu. Di bawah Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya, menguasai wilayah yang membentang dari Mindanao di utara hingga Flores di selatan. Ia dijuluki “Penguasa 72 Pulau” dan Ternate menjadi kerajaan Islam terbesar di Indonesia bagian timur.

Kolonialisme VOC Belanda di Ternate dan Tidore
Kemenangan gemilang Ternate, sayangnya, tidak bertahan lama. Setelah Sultan Baabullah wafat, kesultanan mulai melemah. Dan musuh lama mereka kembali.
Kedatangan VOC Belanda ke Ternate Tidore
Pada tahun 1580, Spanyol berhasil menyatukan kekuatan kerajaan mereka dengan Portugal. Dengan kekuatan baru, mereka kembali ke Maluku dari pangkalan mereka di Manila, Filipina. Pada tahun 1606, Spanyol menyerang Ternate, menangkap Sultan Said Barakati, dan membuangnya ke Manila.
Dalam kondisi putus asa dan terdesak oleh Spanyol, para bangsawan Ternate membuat kesalahan fatal yang sama seperti yang dilakukan ayah-ayah mereka: mereka mencari sekutu Eropa yang baru. Pilihan mereka jatuh pada pedagang yang baru tiba di Nusantara: Belanda (VOC).
Pada tanggal 26 Juni 1607, Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli dengan VOC. Sebagai imbalan atas bantuan militer VOC untuk mengusir Spanyol, Ternate memberikan hak monopoli penuh atas perdagangan rempah-rempah kepada Belanda.
Untuk mengamankan posisinya, VOC segera membangun benteng mereka sendiri di Ternate, tepat di seberang kedaton sultan. Benteng itu diberi nama Benteng Oranje. Ini adalah benteng permanen pertama VOC di Nusantara dan menjadi pusat kekuasaan de facto mereka di Hindia Belanda selama bertahun-tahun.
Rakyat Ternate telah berhasil mengusir Portugis, hanya untuk mengundang iblis yang jauh lebih sistematis, lebih terorganisir, dan lebih kejam.
Kolonialisme VOC Belanda di Ternate Tidore
Jika Portugis serakah dan kacau, VOC adalah mesin monopoli yang dingin dan efisien. Mereka tidak tertarik pada penyebaran agama; mereka hanya menginginkan keuntungan. Untuk menjamin keuntungan itu, mereka menerapkan dua kebijakan brutal yang menghancurkan Maluku:
Hak Ekstirpasi (Hak Penebangan): Untuk menjaga agar harga cengkeh dan pala tetap tinggi di Eropa, VOC secara paksa menebangi pohon-pohon rempah milik rakyat. Jika produksi dianggap berlebih, puluhan ribu pohon akan dimusnahkan, menghancurkan mata pencaharian rakyat Maluku.
Pelayaran Hongi (Hongi Tochten): VOC menciptakan patroli laut bersenjata yang terdiri dari kapal-kapal perang (kora-kora). Tugas mereka adalah berpatroli di perairan Maluku untuk mencegah “perdagangan gelap”—yaitu, rakyat Maluku yang mencoba menjual rempah-rempah mereka kepada pedagang lain (seperti dari Jawa atau Makassar) dengan harga yang lebih baik.
VOC juga terus mengadu domba Ternate dan Tidore. Strategi divide et impera (pecah belah dan kuasai) ini memastikan kedua kesultanan tetap lemah dan bergantung pada VOC.
Perlawanan Terhadap VOC di Ternate Tidore

Penindasan brutal VOC memicu perlawanan di seluruh Maluku. Perang melawan Belanda berlangsung selama hampir 200 tahun, dipimpin oleh pahlawan-pahlawan yang tak terhitung jumlahnya. Ada perlawanan pimpinan Kakiali dan Telukabesi di Hitu (1635-1646) , dan pemberontakan pimpinan Saidi di Ambon (1650).
Namun, perlawanan terbesar dan paling sukses datang dari Kesultanan Tidore. Pada akhir abad ke-18, muncullah seorang pangeran dari Tidore yang kelak menjadi musuh terbesar VOC: Sultan Nuku (memerintah 1780-1805). Nuku, yang bergelar “Jou Barakati” (Raja yang Diberkati), adalah seorang pemimpin gerilya dan diplomat ulung. Ia menyadari bahwa satu-satunya cara mengalahkan VOC adalah dengan menyatukan kekuatan Maluku.
Secara ajaib, ia berhasil melakukan apa yang tidak pernah bisa dilakukan oleh para pendahulunya: ia menyatukan Ternate dan Tidore di bawah satu panji untuk bersama-sama melawan Belanda.
Didukung oleh armada tempur dari Papua dan Seram, serta menjalin aliansi dengan Inggris (musuh Belanda), Nuku melancarkan perang selama 25 tahun. Ia berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah Tidore dan bahkan mengusir Belanda dari Ternate untuk sementara waktu. Di bawah kepemimpinannya, Tidore mencapai puncak kejayaannya, menggantikan Ternate sebagai kekuatan dominan di Maluku.
Akhir Perlawanan Ternate Tidore Terhadap Kolonialisme Bangsa Barat
Pada tanggal 7 Juli 1683, Ternate dipaksa menandatangani perjanjian yang secara resmi menjadikan kesultanan sebagai kerajaan dependen atau vassal Belanda. Kemenangan Sultan Baabullah seratus tahun sebelumnya telah sirna. Kesultanan Ternate dan Tidore, yang pernah menjadi penguasa Maluku yang kaya raya, kini tak lebih dari sekadar simbol budaya tanpa kedaulatan politik.
Kemenangan Sultan Nuku, sayangnya, adalah perlawanan besar terakhir yang benar-benar mengancam Belanda. Setelah ia wafat pada tahun 1805, Belanda kembali dan menerapkan cengkeraman mereka dengan lebih kuat. Perlawanan-perlawanan lain terus berkobar—seperti Perang Pattimura yang dahsyat di Saparua pada tahun 1817 dan perlawanan Sultan Haji Muhammad Usman Syah dari Ternate pada tahun 1914 —namun semuanya berhasil dipadamkan.
Kisah kolonialisme di Ternate dan Tidore adalah pelajaran tragis tentang bagaimana kekayaan alam yang melimpah dapat mengundang bencana. Namun, lebih dari itu, ini adalah pelajaran tentang bahaya perpecahan. Bangsa Eropa—baik Portugis, Spanyol, maupun Belanda—tidak pernah menaklukkan Maluku murni dengan kekuatan militer mereka. Mereka menang dengan memanfaatkan perpecahan yang sudah ada. Mereka mempersenjatai Ternate untuk melawan Tidore, kemudian mempersenjatai Tidore untuk melawan Ternate.
Hari ini, benteng-benteng peninggalan kolonial seperti Benteng Oranje , Benteng Tolukko , dan Benteng Kalamata masih berdiri kokoh di Ternate. Mereka berdiri bukan sebagai monumen kemenangan, tetapi sebagai pengingat bisu akan sejarah yang pahit—sejarah tentang bagaimana negeri terkaya di dunia kehilangan kemerdekaannya karena gagal mengelola persaingan internalnya sendiri.