Sosiologi memiliki akar yang dapat ditelusuri pada karya-karya para filsuf terkenal, termasuk Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Konfusius (551-479 SM). Beberapa cendekiawan awal juga mengadopsi pandangan yang memiliki dimensi sosiologis. Misalnya, sejarawan Cina Ma Tuan-Lin, yang pada abad ke-13, mengembangkan metode sejarah sosiologis dengan fokus pada faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan sejarah dalam ensiklopedia pengetahuan umumnya yang dikenal dengan nama Wen Hsien T’ung K’ao atau Studi Umum Peninggalan Sastra.

Selain itu, Ibnu Khaldun (1332–1406) menjalankan penelitian tentang masyarakat Arab dalam karyanya yang terkenal, Muqaddimah. Dengan demikian, tokoh-tokoh tersebut di atas berkontribusi pada pengembangan pemikiran sosiologis dalam sejarah. Pemikiran Pencerahan juga memainkan peran penting dalam menyiapkan panggung bagi perkembangan sosiologi yang akan datang. Ini adalah periode pertama dalam sejarah ketika para pemikir mencoba memberikan penjelasan umum tentang dunia sosial.
Tokoh-tokoh filsuf mampu melepaskan diri dari mengikuti beberapa ideologi yang ada dan berusaha untuk merumuskan prinsip-prinsip umum yang dapat menjelaskan kehidupan sosial (Collins 1994). Tokoh-tokoh dari periode ini meliputi filosof terkenal seperti John Locke, David Hume, Voltaire (François-Marie Arouet), Immanuel Kant, Charles-Louis de Secondat, Baron de La Brède et de Montesquieu, Thomas Hobbes, dan Jean-Jacques Rousseau.
Menurut Macionis (1995), para sarjana atau intelektual telah lama tertarik pada sifat masyarakat sepanjang sejarah. Mereka sering fokus pada bagaimana masyarakat ideal seharusnya. Namun, pada abad ke-19, mereka mulai mempelajari bagaimana masyarakat sebenarnya berfungsi (bagaimana masyarakat “bekerja”). Dengan pengetahuan ini, mereka merasa lebih siap untuk mengatasi masalah sosial dan membawa perubahan sosial (Collins 1994). Para sarjana ini merupakan pelopor sosiologi.

Istilah “sosiologi” pertama kali diciptakan oleh filsuf Prancis Auguste Comte (1798-1857), yang kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Dia pertama kali menggunakan istilah ini secara publik dalam karyanya yang berjudul “Positive Philosophy” (1896, aslinya 1838). Comte, awalnya seorang mahasiswa teknik, menjadi sekretaris dan murid dari filsuf sosial Prancis Claude Henri de Rouvroy Comte de Saint-Simon (1760-1825). Saint-Simon adalah seorang advokat reformasi ilmiah dan sosial, yang menganjurkan penggunaan prinsip-prinsip ilmiah untuk memahami bagaimana masyarakat diatur.
Comte, terinspirasi oleh pemikiran Saint-Simon, yakin bahwa ilmu pengetahuan juga bisa digunakan untuk memahami dunia sosial. Dia memperkenalkan konsep positivisme ke dalam sosiologi, yaitu cara memahami dunia sosial berdasarkan fakta ilmiah. Comte berpikir bahwa dengan pendekatan ini, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik dan bahwa sosiolog akan memainkan peran penting dalam membimbing masyarakat.
Selama abad ke-19 dan ke-20, banyak peristiwa sejarah yang memengaruhi perkembangan sosiologi. Revolusi politik di Eropa, pertumbuhan industri, perubahan dalam struktur sosial, serta gerakan hak-hak sipil semuanya memengaruhi perhatian para sosiolog awal. Mereka tidak hanya ingin menjelaskan masalah sosial, tetapi juga mencari solusinya. Ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai disiplin lain dan upaya aktif untuk menyoroti masalah sosial. Misalnya, Karl Marx dan Friedrich Engels bekerja bersama dalam memerangi ketidaksetaraan kelas, Max Weber aktif dalam politik, dan Emile Durkheim menganjurkan reformasi pendidikan.
Para sosiolog juga telah memberikan kontribusi signifikan dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari yang kita kenal. Mereka telah memengaruhi restoran, bisnis, dan bahkan penggunaan istilah dalam bahasa Inggris sehari-hari. Mereka juga telah berperan dalam gerakan hak-hak sipil dan melibatkan diri dalam perjuangan melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial.
Tidak hanya itu, perempuan dan sosiolog berkulit berwarna juga telah memberikan kontribusi yang berharga dalam disiplin ini, meskipun mereka seringkali tidak mendapatkan pengakuan yang sepatutnya. Upaya telah dilakukan untuk menghidupkan kembali suara mereka dan mengakui pencapaian luar biasa mereka dalam perkembangan sosiologi. Harriet Martineau, misalnya, menerjemahkan karya Comte ke dalam bahasa Inggris dan dikenal sebagai sosiolog perempuan pertama, sementara Jane Addams aktif dalam membantu imigran miskin dan mendirikan Hull House di Chicago.
Semua ini menunjukkan bahwa sosiologi memiliki akar yang kuat dalam pemikiran Pencerahan dan telah berkembang menjadi disiplin yang memainkan peran penting dalam memahami dan mengatasi tantangan sosial dalam masyarakat.