Biografi Soe Hok Gie

Soe Hok Gie
Daftar Isi Artikel

Kehidupan Keluarga dan Masa Kecil Hok Gie

Soe Hok Gie lahir tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta, dari pasangan Soe Lie Pet alias Salam Sutrawan dan Nio Hoe An alias Maria Sugiri. Soe Lie Pet merupakan penulis dan redaktur berbagai surat kabar seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kung Yung Po, Min Pao dan terakhir menjadi redaktur harian Sadar. Tidak hanya penulis dan redaktur di berbagai harian, dia juga seorang penulis buku yang cukup produktif.

Ibu Hok Gie, Nio Hoe An adalah seorang ibu rumah tangga, berasal dari Bandung. Keluarga Hok Gie sempat berpindah tempat tinggal di Bandung dan Denpasar, sebelum akhirnya memutuskan menetap di Jakarta menjelang kelahiran Hok Gie akhir tahun 1942.

Ilustrasi lingkungan tempat Soe Hok Gie tumbuh di wilayah Kebun Jeruk, Jakarta.

Nama Soe Hok Gie diambil dari dialek Hokkian. Leluhur Hok Gie berasal dari kepulauan Hainan provinsi Hainan di bagian selatan Republik Rakyat Cina, yang bermigrasi ke Batavia sekitar tahun 1870. Hok Gie merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Saudara perempuan Hok Gie bernama Soe Lian Hiang alias Dien Pranata, Soe Lian Eng alias Mona Sugiri dan Soe Lian Sian alias Jeanne Sumual, sedangkan kakak laki-lakinya bernama Soe Hok Djin alias Arief Budiman.

Hok Gie dan keluarga tinggal di pemukiman multi etnis di kawasan Bilangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Keluarga Hok Gie tinggal di rumah sewa milik Tuan Abdullah Bey, seorang peranakan Arab terkemuka di lingkungan tersebut. Rumah Hok Gie sederhana, hampir seluruhnya terbuat dari kayu dan dibangun satu meter lebih tinggi untuk mengantisipasi banjir. Tidak jauh dari rumah Hok Gie terdapat pemukiman semi permanen yang kebanyakan terbuat dari bambu. Pemukiman ini ditempati perantauan dari luar daerah yang datang ke Jakarta.

Hok Gie Memasuki Usia Remaja dan Masa Sekolah

Soe Hok Gie masuk sekolah dasar Hsin Hwa, sekolah khusus keturunan etnis Cina pada umur 5 tahun. Dari Hsin Hwa School Ia sempat pindah ke SR Gang Komandan. Selepas tamat sekolah dasar lalu melanjutkan sekolah di SMP Strada di bawah asuhan Broeder Khatolik. Menyelesaikan SMP pada tahun 1958, Hok Gie kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Kanisius Jakarta.

Di Kanisius Hok Gie memilih jurusan ilmu sastra, sedang kakaknya Hok Djien memilih jurusan ilmu alam. Hok Gie menyelesaikan masa studi di SMA pada September 1961 bersamaan dengan kakaknya, Hok Djin.

Ilustrasi menggambarkan kehidupan Soe Hok Gie ketika remaja. Hok Gie kerap melakukan protes apabila mengalami ketidakadilan. Hal ini yang menempa dirinya menjadi sosok yang idealis. Ilustrasi diambil dari film Gie (2005) garapan Riri Riza dan Mira Lesmana.

Kesadaran politik Soe Hok Gie didasari oleh beberapa hal, diantaranya demokrasi, kebebasan dan hak-hak individu. Dekrit Presiden Soekarno tahun 1959 yang membawa Indonesia pada demokrasi terpimpin membuat Hok Gie resah. Baginya demokrasi terpimpin adalah cerminan dari pemerintahan yang otoriter dan jauh dari cara-cara demokrasi. Pemerintahan yang otoriter dikhawatirkan akan memasung kebebasan rakyat. juga melarang aktivitas di bidang sastra dan seni yang tidak sejalan dengan arah politiknya.

Soe Hok Gie di Universitas Indonesia

Selepas SMA, Hok Gie mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Universitas Indonesia. Ia mengambil pilihan dan diterima di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia angkatan 1961. Kakak Hok Gie juga diterima di UI, mengambil jurusan Psikologi di Fakultas Psikologi UI. Kampus Fakultas Sastra saat itu terletak di daerah Rawamangun.

Hok Gie dikenal luas sebagai aktivis di senat mahasiswa, aktif menyelenggerakan diskusi-diskusi di kampus, pemimpin aksi demonstrasi era 1966, penggiat kegiatan-kegiatan pecinta alam yang tergabung dalam Mapala UI dan berbagai aktivitas lainnya.

Di luar kampus Hok Gie sempat mengikuti berbagai organisasi seperti Gerakan Mahasiswa Sosialis dan Gerakan Pembaruan, keduanya berada di bawah naungan Partai Sosialis Indonesia. Hok Gie juga masuk jajaran pemimpin Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB) yang mengupayakan asimilasi keturunan etnis cina.

Salah satu sudut kampus Universitas Indonesia, Fakultas Sastra UI. Hok Gie aktif di kegiatan kampus sebagai senat mahasiswa dan banyak berkegiatan dalam Mapala Universitas.

Di dalam kampus Hok Gie aktif di senat mahasiswa FSUI dan sempat menjadi ketua senat mahasiswa pada tahun 1967, dan menjadi salah satu pendiri Grup Diskusi UI Juli 1968. Ia juga sempat membantu mengembangkan Radio UI, stasiun radio milik Universitas Indonesia yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan

Hok Gie merupakan salah satu sosok yang vokal menyuarakan protes dan kritik terhadap pemerintahan Soekarno ketika masih berkuasa. Hok Gie terutama mengkritisi kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang tidak diperhatikan pemerintah.

Dalam catatan hariannya Hok Gie kerap menuliskan tentang perilaku penguasa yang kerap berfoya-foya tanpa memikirkan kondisi rakyat yang sengsara. Hok Gie sempat melakukan demonstrasi memprotes pelarangan Partai Sosialis Indonesia oleh Soekarno. Hok Gie juga kerap mengkritik menteri-menteri kabinet yang kinerjanya mengecewakan.

Soe Hok Gie dalam Aksi Demonstrasi Tahun 1966

Pasca peristiwa G30S Hok Gie ikut bergerak menyuarakan tiga tuntutan rakyat bersama rekan-rekannya dari FSUI. Keadaan ekonomi yang semakin parah menggugah mahasiswa untuk turun ke jalan memperjuangkan perubahan. Di berbagai kampus, termasuk di UI mulai terbentuk kesatuan-kesatuan aksi.

Dari kesatuan-kesatuan aksi ini terbentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang secara massal melakukan aksi demonstrasi menuntut agar perubahan segera dilakukan oleh Soekarno. Pada Januari 1966 aksi mahasiswa ini semakin besar, berawal dari rapat di FKUI aksi mahasiswa bergerak untuk menuntut perubahan.

Aksi demonstrasi Tritura yang dilakukan berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam berbagai kesatuan aksi. Hok Gie dan kawan-kawannya dari Fakultas Sastra UI memakai cara-cara unik dan kreatif dalam melaukan aksi demonstrasi. Beberapa cara yang dilakukan diantaranya adalah dengan bersepeda keliling kota dengan membawa spanduk berisi tuntutan mahasiswa.

Aksi demonstrasi mahasiswa 1966 berhasil menurunkan Presiden Soekarno. Turunnya Soekarno memang tidak bisa lepas dari tindakan Soeharto dan sikap yang diambil militer pada masa itu. Dalam aksi demonstrasi tritura, militer cenderung berpihak kepada mahasiswa dengan cara tetap menjaga keadaan dan keamanan, namun tidak menghalangi aksi demonstrasi mahasiswa.

Hok Gie sendiri menjalin komunikasi yang baik dengan militer, sehingga tidak terjadi bentrok antara mahaiswa dan militer. Hok Gie merupakan sosok yang pada saat itu bisa mengkomunikasikan antara gerakan mahasiswa dan kekuatan militer.

Ilustrasi kegiatan mahasiswa pada gerakan kemahasiswaan tahun 1966 menuntut Tritura.

Soe Hok Gie pasca Perjuangan Aktivisme Mahasiswa 1966

Selepas aktivitas perjuangan tritura, Soe Hok Gie kambali pada aktivitas kuliahnya. Hok Gie sempat menjadi ketua senat mahasiswa FSUI pada tahun 1967, menggantikan Herman Lantang. Bersama kawan-kawannya di FSUI, Hok Gie mulai membangun kembali kehidupan bermahasiswa yang menarik dan bebas dari unsur politik mahasiswa. Hok Gie juga mulai mempersiapkan pengerjaan tugas akhir skripsinya untuk gelar sarjana. Kembali menjalani rutinitas di kampus tidak lantas membuat Hok Gie meninggalkan idealismenya sebagai mahasiswa.

Soe Hok Gie berangkat ke Amerika Serikat bersama beberapa mahasiswa lainnya dalam program pertukaran mahasiswa.

Hok Gie sempat pergi ke Amerika Serikat selama 3 bulan pada tahun 1968. Kepergiannya ke Amerika Serikat berkaitan dengan program Experiment in International Living yang diadakan Pemerintah Amerika Serikat. Selama di Amerika, Hok Gie banyak belajar tentang kondisi pergerakan mahasiswa pada umumnya di Amerika. Hok Gie juga banyak mengisi seminar yang berkaitan dengan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Oleh Hok Gie perjalanan ke Amerika ditulisnya dalam bentuk artikel di berbagai surat kabar.

Hok Gie menyelesaikan kuliahnya di FSUI pada tahun 1969. Dengan gelar Doktorandus, Hok Gie kemudian masuk dalam jajaran dosen FSUI, mengampu mata kuliah pengantar sejarah dan beberapa mata kuliah di Jurusan Sejarah FSUI. Dia tetap sering menulis berbagai permasalahan mulai dari permasalahan bangsa, mengenai kehidupan mahasiswa, bahkan kritik terhadap sesama dosen.

Di tengah kesibukan sebagai dosen, Hok Gie tetap memperhatikan perkembangan politik yang terjadi. Hok Gie mengkritisi rekan-rekan mahasiswa yang dulu sama-sama berjuang memperjuangkan tritura yang kemudian masuk dalam jajaran DPR masa pemerintahan Soeharto. 

Akhir Hayat Soe Hok Gie

Tanggal 14 Desember 1969 Hok Gie dan rombongan memulai pendakian di gunung Semeru dari Gubug Klakah, desa terakhir di kaki gunung Semeru. Setelah menempuh perjalanan hampir dua hari, Hok Gie dan rombongan akhirnya berhasil mencapai puncak gunung Semeru.

Dalam perjalanan turun menjelang malam hari, kondisi cuaca semakin buruk. Hujan dan hawa dingin memaksa rombongan untuk segera turun dari puncak. Dalam perjalanan turun Hok Gie menghirup gas beracun yang berasal dari kawah. Idhan Lubis, salah satu rombongan juga menghirup gas beracun dari kawah. 

Jenazah Soe Hok Gie disemayamkan di Jakarta, keluarga dan beberapa teman datang untuk melepas Hok Gie untuk yang terakhir kali.

Soe Hok Gie meninggal menjelang hari ulang tahunnya di puncak gunung Semeru. Kepada rekan-rekannya ia menceritakan niatannya untuk bermalam di puncak semeru di hari ulang tahunnya. Hok Gie meninggal karena menghirup gas beracun yang ada di puncak gunung Semeru. Dalam insiden ini turut meninggal Dhanvantari Lubis salah satu rombongan. Dhavantari Lubis merupakan keponakan Mochtar Lubis, kawan Hok Gie yang merupakan redaktur Harian Indonesia Raya.

Registrasi dan Login

Untuk mengakses kursus secara penuh, registrasikan dirimu di sini!

Mulai Belajar di Tamansiswa.id