Catatan Sejarah Mengenai Tegal
Salah satu catatan tertua yang menuliskan wilayah Tegal adalah Suma Oriental. Suma Oriental que trata do Mar Roxo ate aos Chins yang kurang lebih berarti Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri China, adalah catatan perjalanan yang ditulis Tome Pires seorang penjelajah asal Portugis. Tahun 1512-1515 Tome Pires melakukan perjalanan di Asia, dan informasi penting yang Ia dapat selama perjalanan dituliskannya sebagai kompendium atau catatan perjalanan. Buku Suma Oriental sendiri terdiri dari enam jilid. Salah satu bahasan dari catatan perjalanan Tome Pires adalah informasi tentang kehidupan di Jawa dan Sumatera pada saat itu. Pada buku Suma Oriental, Tome Pires menuliskan beberapa kota pelabuhan penting di Jawa, beberapa diantaranya adalah Cirebon, Semarang, Demak, Tegal dan kota pelabuhan lainnya.

Pada catatan tersebut, Tegal dikatakan merupakan kota pelabuhan yang cukup penting dalam perdagangan pada masa itu. Peran pelabuhan Tegal tidak kalah penting dengan pelabuhan di Semarang, Demak, Cirebon dan Sunda Kelapa, dst. Hal ini yang mendorong berkembangnya wilayah Tegal, dengan didorong dari aktifitas perdagangan di pelabuhan dan pelayaran laut sekitar. Wilayah Tegal sendiri tidak hanya bergantung pada aktivitas ekonomi di pelabuhan. Tegal memiliki lahan pertanian yang subur dengan adanya sungai besar yang mengalir serta banyaknya tanah vulkanis dari aktifitas gunung Slamet. Kondisi yang subur ini menjadi salah satu faktor utama berkembangnya wilayah Tegal.
Asal Mula Nama Tegal
Asal mula nama Tegal sering dikaitkan dengan beberapa cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Cerita tersebut ada yang berkaitan dengan sebab terjadinya kota Tegal, ada pula yang berkaitan dengan tindakan orang yang selanjutnya menjadi nama wilayah. Salah satu cerita rakyat yang cukup populer adalah cerita Mbah Panggung. Mbah Panggung atau Pangeran Panggung sering disebut sebagai putra dari Sunan Ampel, salah satu dari Walisongo. Mbah Panggung sering pula disebut putra dari Raden Patah, Putra dari Brawijaya V, putra dari Sunan Kalijaga. Setelah memluk agama Islam, Mbah Panggung kemudian menetap di Tegal dan mulai mengajarkan agama Islam. Karena faktor ketokohan Mbah Panggung inilah kemudian wilayah Tegal menjadi ramai dikunjungi banyak orang.

Makam Mbah Panggung terletak di tengah pemakaman umum Kota Tegal. Gerbang utama makam memiliki beberapa tulisan arab. Makam ini dikelilingi dengan tembok batu bata yang tingginya sekitar 1 meter. Di dalam areal pemakaman Mbah Panggung masih terdapat makam tokoh lain. Untuk menuju makam Mbah panggung, kita akan melewati lorong panjang dengan keramik berwarna hitam putih bersilangan, mirip papan catur. Makam Mbah Panggung menggunakan cungkup sederhana dan dikelilingi oleh pintu-pintu kayu bercat coklat.
Selain cerita Mbah Panggung, terdapat pula cerita rakyat lain yaitu mengangkat cerita Ki Gede Sebayu. Ki Gede Sebayu merupakan tokoh dari Pajang yang mengembara ke arah barat untuk menemui tokoh bernama Ki Wanakusuma. Kedua tokoh ini bertemu di sebuat tempat yang memiliki banyak lahan Tegalan. Tegalan merupakan lahan pertanian kering yang sering ditanami palawija. Di tempat inilah Ki Gede Sebayu berguru kepada Ki Wanakusuma, kemudian menyiarkan agam islam di sekitar wilayah itu. Semakin lama, tempat tersebut semakin ramai penduduk hingga akhirnya tempat tersebut dikenal dengan nama Tegal.

Salah satu sumbangsih dan peran penting Ki Gede Sebayu selain stiar agama Islam, adalah pembangunan bendungan Danawarih. Ki Gede Sebayu memanfaatkan berbagai aliran sungai yang ada di Tegal kemudian dibendung, dan dipergunakan untuk mengairi sawah tegalan yang ada di wilayah Tegal. Dengan dibantu dukungan penuh masyarakat Tegal pada masa itu, bendungan ini terbangun dan mampu mengairi sawah-sawah di wilayah Tegal. Hal inilah yang kemudian membawa Tegal semakin maju. Keberhasilan Ki Gede Sebayu mendapat apresiasi dari Raja Mataram saat itu, Panembahan Senopati.
Sekitar tahun 1596, Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Adipati Tegal oleh Panembahan Senopati. Beberapa catatan lain menyebutkan pengangkatan terjadi tahun 1601, sebelum kekuasaan Panembahan Senopati berakhir. Pengangkatan Ki Gede Sebayu sebagai Adipati, menjadikan beliau sebagai penguasa pertama di wilayah Tegal. Sejarah Tegal secara umum dimulai dari masa ini.
Selain dua cerita di atas, masih terdapat satu cerita lagi mengenai asal muasal penamaan wilayah Tegal. Cerita ini datang dari kisah perseteruan dua orang sahabat, Martoloyo dan Martapura. Martoloyo dan Martapura merupakan dua sahabat yang sama-sama menjadi abdi setia kerajaan Mataram. Keduanya memiliki kedudukan di wilayah Jawa bagian utara. Karena pengaruh politik adu domba Belanda, keduanya akhirnya saling kelahi dan merobohkan satu sama lain. Keduanya sampai hati (tegel) saling serang hingga akhirnya keduanya terbunuh dalam pertempuran. Nama Tegal, oleh cerita ini disinyalir berawal dari Tegel, menggambarkan tragedi yang dialami Martoloyo dan Martapura.
Jika ditimbang-timbang, dari tiga cerita mengenai asal usul nama Tegal, memang agak rumit menentukan asal mula sebenarnya dari nama Tegal. Pilihan paling kuat, merujuk pada bukti tertulis, asal muasal nama Tegal memang sudah ada sejak sebelum tahun 1512 ketika Tome Pires melakukan perjalanan di Asia Tenggara. Cerita mengenai asal nama Tegal dari cerita Mbah Panggung, Ki Gede Sebayu, hingga Martoloyo Martapura, tanpa mengesampingkan peran dan pengaruhnya, terjadi ketika nama Tegal (dalam hal ini ditulis Tetegual dalam buku Tome Pires) sudah ada.
Tegal pada Masa Kerajaan Mataram, VOC dan Belanda
Pengangkatan Ki Gede Sebayu sebagai Adipati Tegal oleh Panembahan Senopati menjadi tonggak sejarah Tegal, khususnya di bawah pengaruh Mataram. Ki Gede Sebayu menjadi Adipati sejak tahun 1596/1961 hingga mangkat tahun 1620. Sepeninggal Ki Gede Sebayu, posisi Adipati Tegal diteruskan oleh Ki Gede Honggowono. Pada masa Sultan Agung (bertahta 1613-1645) Tegal sempat dijadikan lumbung makanan untuk pasukan Sultan Agung yang hendak menyerang Batavia. Sultan Agung merupakan Raja Mataram yang secara terbuka melawan VOC dan beberapa kali berusaha untuk menyerang Batavia.

Selepas Sultan Agung wafat, kekuasaan Mataram jatuh kepada Sultan Amangkurat I (bertahta 1646-1677). Masa pemerintahan Amangkurat I terbilang banyak mengalami goncangan, bahkan mengalami pemberontakan dari berbagai pihak. Salah satu yang memberontak adalah Trunojoyo. Terdesak oleh berbagai konflik, Amangkurat I hendak melakukan perjalanan ke Batavia, tetapi di tengah jalan, Amangkurat I wafat dan akhirnya dimakamkan di wilayah Tegalarum/Tegalwangi. Hingga saat ini, makam Amangkurat I di desa Pesarean Adiwerna Tegal masih dijaga dan terawat.

Pemerintahan Amangkurat II naik menggantikan pemerintahan Amangkurat I. Pada masa ini, Tegal berada pada masa pemerintahan Adipati Pangeran Anom. Di bawah kekuasaan Adipati Anom wilayah Tegal berkembang menjadi wilayah pelabuhan yang semakin maju. Bidang perdagangan dan bidang pertanian juga semakin maju. Tegal pada masa ini dapat disejajarkan dengan kota-kota pelabuhan besar lain di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Perkembangan Tegal menjadi kota pelabuhan yang ramai menarik banyak pendatang dari mancanegara. Pendatang dari Arab, Tiongkok dan banyak lagi.
Tahun 1690 dibuatlah bangunan tempat peribadatan untuk warga Tiongkok yang banyak datang di wilayah Tegal. Pembangunan rumah ibadah ini untuk mengakomodir kebutuhan spiritual bagi pedagang Tiongkok yang singgah atau sudah bermukim di Tegal. Rumah ibadah/Klenteng yang diberi nama Teng Hak Kiong sampai saat ini bisa kita temui bangunannya di kota Tegal, tepatnya di area Jalan Veteran, Tegalsari. Pembangunan Klenteng di Tegal merupakan indikator kehidupan masyarakat di Tegal yang harmonis.
Tahun 1729, sistem administrasi pemerintahan mulai memperkenalkan sistem Residen. Residen Tegal membawahi tiga kabupaten, yakni Brebes, Tegal dan Pemalang. Sistem Residen merupakan sistem yang dibuat VOC agar kendali atas adipati di daerah bisa berjalan efisien. Residen pertama dijabat oleh J. Thierens. Residen Tegal berkantor di kantor Residen yang sekarang menjadi gedung DPRD Kota Tegal.
