Perkembangan Kekhalifahan Dinasti Umayah

Dinasti Umayah
Daftar Isi Artikel

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan gubernur Syam pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan. Selama menjabat sebagai gubernur, Muawiyah membentuk kekuatan militer yang dapat memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Muawiyah tidak segan mengeluarkan harta benda untuk merekrut tentara bayaran yang mayoritas adalah keluarganya sendiri. Pada masa Umar bin Khattab, Muawiyah mengusulkan pendirian angkatan laut, tetapi Umar menolaknya. Muawiyah akhirnya berhasil mendirikan angkatan laut pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.

Kemunculan Dinasti Umayyah

Bani Umayah adalah sebuah nama yang diadopsi dari nama salah seorang tokoh kabilah Quraisy pada masa jahiliyyah, yaitu Umayyah ibn Abd Al-Syam ibn Abd Manaf ibn Qusay Al-Quraisyi Al-Amawiy.1 Dinasti Umayyah dinisbatkan kepadaMu’awiyah ibn Abi Sofyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abd Al-Syams yang merupakan pembangun dinasti Umayyah dan juga khalifah pertama yang memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus

Dinasti Umayyah merupakan sebuah rezim pemerintahan Islam yang berada di bawah kekuasaan keluargaUmayyah3 yang berlangsung dari tahun 661 M-750 M. Sepeninggal Ali ibn Abi Thalib, sebagian umat Islam membai’at Hasan salah seorang anak Ali untuk menjadi Khalifah, namun jabatan tersebut tidak berlangsung lama, karena Hasan tidak mau melanjutkan konflik dengan Bani Umayyah (Mu’awiyah).

Ia melakukan perdamaian dengan Mu’awiyah dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya.4 Dengan demikian, Mu’awiyah menjadi penguasa tunggal masyarakat muslim ketika itu. Sedangkan keluarga Hasan hidup mengasingkan diri sebagai orang biasa. Namun Umayyah terus memburunya hingga akhirnya Hasan meninggal karena diracun.

Suksesi kepemimpinan secara turun menurun dimulai sejak Mu’awiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anak Yazid. Mu’awiyyah bermaksud mencotoh sistem monarki yang terdapat di Persia dan Byzantium. Dia tetap menggunakan istilah khalifah pada kepemimpinannya, namun ia memberikan interpretasi baru untuk mengagungkan jabatan tersebut, ia menyebutnya khalifatullah dalam pengertian penguasa yang diangkatoleh Allah

Pada masa pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Thalib, terjadi pertempuran Ali dengan Muawiyah di Shifin. Perang ini diakhiri dengan tahkim, tapi ternyata tidak menyelesaikan masalah bahkan menimbulkan adanya golongan tiga yaitu Khawarij yang keluar dari barisan Ali Umat Islam menjadi terpecah menjadi tiga golongan politik yaitu Muawiyah, Syiah dan Khawarij. Pada tahun 660 M Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.

Dengan demikian berakhirlah masa Khulafaur Rasyidin dan mulai kekuasaan Bani Umayah dalam semangat politik Islam. Kekuasaan Bani Umayah berbentuk pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Hal ini dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya Yazid

Peristiwa takhim berdasarkan sejarah yang kita pelajari ialah berlaku perebutan kekuasaan antara Ali dan Mu’awiyah yang membawa mereka ke meja perundingan.6 Perundingan antara mereka berdua telah diwakili oleh Abu Musa al-‘Asyari bagi pihak Ali dan ‘Amr bin al-‘Ash bagi pihak Mua’wiyah. Kedua-dua perunding telah setuju untuk memecat Ali dan Mua’wiyah. Menurut sejarah lagi, ‘Amr bin al-‘Ash dengan kelicikannya mampu memperdayakam Abu Musa yang digambarkan sebagai seorang yang lalai dan mudah tertipu. Akibatnya, Ali terlepas dari jawatan khalifah.

Oleh karena peristiwa takhim sangat penting dalam sejarah politik negara Islam, adalah perlu untuk kita menyingkap hakikat sebenarnaya pada babak-babaknya di mana peristiwa ini telah disalahtanggapi dan telah disalahtafsirkan. Akibatnya timbul kesan buruk yaitu menjatuhkan kedudukan dan martabat para sahabat. Peristiwa tahkim yang tersebar itu telah menjadikan sebahagian sahabat sebagai penipu dan orang yang mudah terpedaya dan sebahagian yang lain dituduh sebagai perakus kuasa.

Dengan meletakkan riwayat tahkim di atas neraca kajian dan penilaian, dua perkara dapat diamati, yaitu pertama, kelemahan pada sanad dan kedua, kegoncangan pada matan atau teks. Dari sudut sanad terdapat dua perawi yang diakui keadilannya yaitu Abu Mikhnaf Lut bin Yahya dan Abu Janab al-Kalbi. Abu Mikhnaf seorang yang dha’if. Al-Bukhari dan Abu Hatim berkata: Yahya bin al-Qattan mendha’ifkannya. Uthman al-Darimi dan al-Nasa’i mengatakan dia dha’if. Ada tiga perkara yang dikesani pada matannya. Pertama, berkaitan dengan perselisihan antara Ali dan Mu’awiyah yang menjadi puncak kepada peperangan antara mereka berdua. Kedua, persoalan jawatan Ali dan Mu’awiyah. Ketiga, kepribadian Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin al-‘Ash

Latar belakang lahirnya Dinasti Umayyah9 ialah dalam kondisi dan situasi di tengah-tengah terjadinya pertentangan politik antara golongan, yaitu: golongan Syi’ah, golongan Khawarij, golongan Jami’iyah, dan golongan Zubaer. Dari pertentangan polotik antar golongan itu, kelompok Bani Umayyah yang dipelopori Mu’awiyyah muncul sebagai pemenangnya yang selanjutnya berdirilah pemerintah Daulat Bani Umayyah.

Muawiyah bin Abi Sufyan sudah terkenal sifat dan tipu muslihatnya yang licik. Dia adalah kepala angkatan perang yang mula-mula mengatur angkatan laut, dan ia pernah dijadikan sebagai amir “Al-Bahar”. Ia mempunyai sifat panjang akal, cerdik cendikia lagi bijaksana, luas ilmu dan siasatnya terutama dalam urusan dunia, ia juga pandai mengatur pekerjaan dan ahli hikmah.10
Muawiyah bin Abi Sufyan dalam membengun Daulah Bani Umayyah mengunakan politik tipu daya, meskipun pekerjaan itu bertentangan dengan ajaran Islam. Ia tidak gentar melakukan kejahatan. Pembunuhan adalah cara biasa, asal maksud dan tujuannya tercapai Abu Sufyan ini baru memeluk Islam dan tunduk kepada Nabi Muhammad saat Fathu Makkah. Meskipun begitu Nabi Muhammad saw., tetap memerankan Abu Sufyan sebagai pemimpin Makkah. Pada saat itu ketika seluruh penduduk Makkah merasa ketakutan, Nabi Muhammad berkata, bahwa barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ian akan selamat. Artinya bahwa keberadaan Abu Sufyan adalah tetap pemimpin Makkah, meskipun ia tunduk kepada kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Pada masa kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, Bani Umayah tidak lagi sebagai pempimpin bangsa Arab. Pada saat itu kepemimpinan Islam dan bangsa Arab, tidak memperhatikan asal-usul kabilah dan kesukuan. Proses rekrutmen pempimpin didasarkan pada kemampuan dan kecakapan.
Meskipun Usman bin Affan adalah dari keluarga Bani Umayyah, tetapi ia tidak pernah mengatasnamakan diri sebagai Bani Umayyah. Begitu juga Mu’awiyah bin Abi Sufyan diangkat oleh Umar bin Khattab sebagai gubernur Syiria adalah karena kecakapannya. Ambisi Bani Umayyah untuk memimpin kemabali muncul ketika mereka sudah mempunyai kekuatan besar. Dengan berbagai upaya, mereka menyusun kekuatan dan merebut kekhalifahan umat Islam. Usaha ini akhirnya berhasil setelah Hasan bin Ali mengundurkan diri dari jabatannya sebagai khalifah dan menyerahkannya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang dikenal dengan istilah Amul Jama’ah

Registrasi dan Login

Untuk mengakses kursus secara penuh, registrasikan dirimu di sini!

Mulai Belajar di Tamansiswa.id