Pemikiran dan gagasan dari Hok Gie memiliki fokus kepada tiga hal utama, hal kebangsaan, hal kemahasiswaan dan hal kemanusiaan. Dalam catatan harian dan berbagai tulisan di surat kabar, ketiga hal ini selalu menjadi topik utama gagasan Hok Gie. Hal kebangsaan menyangkut pemikiran yang berhubungan dengan
Pada pertengahan abad ke-17, Kesultanan Mataram berdiri sebagai kekuatan dominan di Pulau Jawa. Di bawah pimpinan raja terbesarnya, Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), kerajaan ini telah menaklukkan hampir seluruh pulau. Surabaya, Madura, Pasuruan, dan sebagian besar Jawa Barat telah tunduk. Mataram adalah imperium agraris yang kaya
Generasi milenial yang lahir dibawah tahun 2000an, menghadapi jaman yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika generasi sebelumnya seperti generasi boomer, tumbuh di jaman yang belum terlalu cepat perkembangannya, maka generasi milenial menghadapi jaman yang begitu dinamis. Berikut adalah skill-skill yang harus dikuasai generasi milenial:
Keberhasilan Cournelis de Houtman dan Van Neck berlayar ke kepulauan Nusantara pada tahun 1600 mengawali Imperialisme Belanda di Nusantara. Pedagang-pedagang Belanda melaksanakan kegiatan ekonomi dari wilayah Nusantara. Menjadikan Belanda dalam dua tahun menjadi negara yang kaya rempah-rempah. Keuntungan yang diperoleh berlipat-lipat sehingga banyak kongsi dagang
Kondisi Hindia Belanda Tahun 1929-1942 Tahun 1929 dunia mengalami kegoncangan ketika terjadi crash di pasar saham Amerika Serikat. Jatuhnya pasar saham mempengaruhi berbagai sektor mulai dari industri, perdagangan, merosotnya daya beli masyarakat, hilangnya aset dan simpanan kekayaan, dan banyak hal lainnya. Kondisi ini menyebabkan The
Sosiologi memiliki akar yang dapat ditelusuri pada karya-karya para filsuf terkenal, termasuk Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Konfusius (551-479 SM). Beberapa cendekiawan awal juga mengadopsi pandangan yang memiliki dimensi sosiologis. Misalnya, sejarawan Cina Ma Tuan-Lin, yang pada abad ke-13, mengembangkan metode sejarah sosiologis
Mu’awiyyah bin Abi Sufyan merupakan gubernur Syam pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan. Selama menjabat sebagai gubernur, Muawiyah membentuk kekuatan militer yang dapat memperkuat posisinya di masa-masa mendatang. Muawiyah tidak segan mengeluarkan harta benda untuk merekrut tentara bayaran yang mayoritas
Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten