Arya Wiraraja Tokoh Intelektual di Balik Berdirinya Kerajaan Majapahit

Daftar Isi Artikel

Silsilah dan Leluhur Arya Wiraraja

Silsilah dan leluhur Arya Wiraraja dapat ditelusuri dalam Babad Manik Angkeran. Babad Manik Angkeran adalah babad yang merekam peristiwa di kerajaan Kediri. Dalam babad ini diceritakan kisah tokoh yang bernama Danghyang Bajrasatwa. Berputra Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita. Berputra lima dengan nama Panca Tirtha, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bharadah. Nama Mpu Kuturan sempat muncul dalam prasasti Serai yang berangka tahun 966 masehi.

Putri dari Mpu Kuturan yang bernama Ratna Mangali kemudian dijodohkan dengan Mpu Bahulah, putra dari Mpu Baradah. Dari pasangan tersebut lahirlah seorang putra bernama Mpu Tantular. Nama Mpu Tantular ini berbeda dengan nama Mpu Tantular yang menggubah kitab Sutasumo di jaman Rajasanegara. Kemungkinan besar nama Mpu Tantular digunakan oleh beberapa orang pada jaman yang berbeda.

Ilustrasi kehidupan Mpu di masa kerajaan Jawa Klasik

Mpu Tantular memiliki empat putra, nama putra yang sering disebut adalah Mpu Bekung/Danghyang Siddhimantra. Mpu Bekung kemudian memiliki putra bernama Ida Bang Manik Angkeran. Ida Bang Manik Angkeran disinyalir menjadi seorang penguasa daerah di bawah Daha. Ida Bang Manik Angkeran kemudian menikah dengan Ni Luh Warsiki, putri dari Ki Dukuh Belatung yang merupakan tetua dari wilayah Bukcabe.

Dari pasangan Ida Manik Angkeran dan Ni Luh Warsiki inilah kemudian lahir Ida Wang Bang Banyak Wide, atau lebih sering dikenal dengan Banyak Wide. Banyak Wide kemudian mencoba menemui kakenya Mpu Bekung dan di tengah perjalanan bertemu dengan Mpu Sedah. Banyak Wide mewarisi beberapa kekayaan dan kekuasaan dari leluhurnya. Dari sinilah Banyak Wide memulai perjalanannya sebagai seorang tokoh penguasa, yang kemudian sering dikenal dengan nama Arya Wiraraja.

Arya Wiraraja sebagai Tetua di Nangka dan Menjadi Bupati di Sumenep

Arya Wiraraja awalnya adalah seorang Buyut di wilayah Nangka. Dalam kamus bahasa Jawa kuno, Buyut bisa diartikan sebagai tetua, moyang, atau yang dituakan di daerah. Kemungkinan besar, Arya Wiraraja merupakan tetua dan pemimpin di wilayah Nangka. Hal ini sedikit banyak memberikan pemahaman pada kita bahwa Arya Wiraraja memiliki kebijaksanaan dalam bidang politik kerajaan.

Pada masa Raja Kertanegara bertahta, Arya Wiraraja dicopot jabatannya kemudian dipindahkan ke Sumenep. Sumenep merupakan daerah di pulau Madura, jauh dari pusat kerajaan Singhasari. Hal ini disebutkan dalam serat/kitab Pararaton di mana disebutkan Raja Kertanegara tidak terlalu suka dengan Arya Wiraraja.

Candi Singosari merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Singosari. Kerajaan Singosari berakhir ketika diserang pasukan Jayakatwang dari kediri.

Ketidaksukaan raja Kertanegara terhadap Arya Wiraraja menyebabkan Arya Wiraraja dijauhkan dari pusat kerajaan. Hal ini bertujuan agar Arya Wiraraja tidak bisa menyebarkan pengaruhnya di sekitar kerajaan Singhasari. Pemindahan Arya Wiraraja ke Sumenep agaknya justru menjadi keputusan yang kurang tepat karena Arya Wiraraja justru jauh dari pengawasan Singhasari.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Arya Wiraraja disinyalir menjalin komunikasi dengan Jayakatwang. Raja Kediri yang ingin membalaskan dendamnya kepada Kertanegara. Meskipun tidak disebutkan dengan jelas apakah Arya Wiraraja yang mengatur dan ikut bergerak dalam penyerbuan Jayakatwang ke Singhosari. Arya Wiraraja setidaknya dapat memberi informasi tentang kondisi Singhasari yang saat itu sedang melangsungkan ekspedisi Pamalayu, sehingga tentara yang menjaga wilayah Singhasari berkurang drastis.

Arya Wiraraja Mendukung Raden Wijaya Mendirikan Kerajaan Majapahit

Raja Jayakatwang menyerang kerajaan Singhasari dari dua arah. Pasukan pengecoh menyerang lewat utara, sedangkan pasukan utama menyerbu dari arah selatan. Menghadapi serangan mendadak ini, pasukan Singhasari tidak mampu melakukan perlawanan. Akibatnya, Kertanegara dan keluarga kerajaan lain terbunuh. Raden Wijaya berhasil melarikan diri disertai dengan pengawal setianya; Lembu Sora, Pamandana, Nambi, Gadjah Pagon, Ronggalawe, Wirota Wiragati, dan masih banyak lagi.

Raden Wijaya melakukan pelarian membawa pasukan kecil ke arah utara. Setelah berhasil menyeberang ke pulau Madura, rombongan hendak menuju tempat Arya Wiraraja, yang berada di Sumenep. Setibanya di kediaman Arya Wiraraja, Raden Wijaya disambut baik dan hangat. Sambutan baik ini membuat Raden Wijaya merasa berhutang budi kepada Arya Wiaraja. Sikap ini dimungkinkan karena baik Arya Wiraraja maupun Raden Wijaya masih satu wangsa, yakni wangsa Sanjaya.

Ilustrasi Hutan Trik tempat di mana Raden Wijaya membuka hutan untuk dijadikan wilayah, Raden Wijaya lalu mengumpulkan kekuatan di hutan ini, yang kemudian menjadi cikal bakal wilayah Majapahit.

Raden Wijaya mendapat nasihat dari Arya Wiraja untuk pura-pura menyerah kepada Raja Jayakatwang, dengan Arya Wiraraja sebagai jaminan. Raja Jayakatwang yang sebelumnya dibantu oleh Arya Wiraraja menyetujui hal tersebut. Jayakatwang kemudian memberikan tanah di Alas Trik, yang masih berupa hutan kepada Raden Wijaya. Di hutan inilah Raden Wijaya mengumpulkan kekuatan dan sisa pasukan yang setia kepadanya, wilayah ini yang nantinya menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit, dikenal juga dengan Wilwa Tikta.

Arya Wiraraja merupakan sosok yang cerdik, dan mengetahui banyak informasi. Ia mengetahui perihal tentara Mongol yang dikirim Kubilai Khan untuk menghukum Raja Jawa. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk membalaskan dendam kepada Raja Jayakatwang. Raden Wijaya bersama pasukan Mongol kemudian menyerang Raja Jayakatwang di Daha, Kediri. Raja Jayakatwang yang tidak siap menghadapi serangan ini akhirnya terbunuh.

Akhir Hidup dan Peninggalan Arya Wiraraja

Setelah berhasil mengalahkan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya balik menyerang pasukan Mongol yang masih lemah dan lengah setelah memenangkan perang melawan Kediri. Serangan tiba-tiba ini membuat pasukan Mongol tidak mampu memberikan perlawanan hingga akhirnya mereka kembali ke Mongol membawa kekalahan. Raden Wijaya sendiri akhirnya mampu menyingkirkan dua musuh beratnya dalam sekali kesempatan. Kerajaan Majapahit berdiri dengan Raden Wijaya bertahta sebagai Raja.

Arya Wiraraja, seperti janji yang pernah diberikan oleh Raden Wijaya, diberi tanah di wilayah Lamajang Tigang Juru, di wilayah Lumajang saat ini. Hal ini diperkuat dengan pemberitaan yang didapatkan dari Kidung Harsa Wijaya. Berita mengenai Arya Wiraraja mendapatkan pembagian wilayah kerajaan dituliskan dalam Kidung Harsa Wijaya sebagai berikut:

Ndan sira adhipating Madhura wus sinung linggih pinalih punang Yawadwipa denira Sri Narendra wus pinrenah wonten ing Lamajang… Terj: Maka beliau adipati Maddhura telah mendapat kedudukan, dibagi-dualah pulau Jawa oleh Sri Narendra, dan (Wiraraja) telah ditetapkan di Lamajang….
Situs Biting, Benteng yang dibangun oleh Arya Wiraraja di daerah Lumajang sebagai benteng pertahanan terhadap serangan musuh.

Kondisi politik Majapahit yang belum stabil mendapat perhatian yang serius dari Arya Wiraraja. Banyaknya pemberontakan yang dilancarkan mantan punggawa Raden Wijaya dahulu membuat Arya Wiraraja berhati-hati terhadap Majapahit. Arya Wiraraja memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah utara menuju wilayah selatan yang lebih dekat dengan wilayah yang subur di daerah pegunungan. Arya Wiraraja juga membangun Benteng Pertahanan untuk berjaga-jaga terhadap serangan dari Majapahit apabila kondisi politik di Majapahit semakin bergolak.

Sepeninggal Arya Wiraraja, Raden Jayanegara sebagai penerus Kerajaan Majapahit menyerang wilayah Lumajang. Salah satu patih Jayanegara yakni Nambi, menjadi korban ketika Nambi dituduh hendak melakukan pemberontakan bersama Lumajang.

Registrasi dan Login

Untuk mengakses kursus secara penuh, registrasikan dirimu di sini!

Mulai Belajar di Tamansiswa.id