Perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari kolonialisme sudah ada jauh sejak zaman kerajaan. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa mengawali di Banten, begitu pula Laksmana Keumalahayati di Aceh hingga Sultan Agung. Di wilayah Indonesia Timur perlawanan tidak kalah sengit, di mana Sultan Hairun dan Baabbulah di Maluku dan Sultan Hasanudin di Makasar juga mengobarkan perlawanan
Perlawanan lalu dilanjutkan dengan perang terhadap kolonial Belanda. Salah satu perang terbesar, Perang Jawa, dikobarkan Pangeran Diponegoro. Wilayah Sumatera juga turut angkat senjata di bawah kepemimpinan Imam Bonjol maupun Sisingamangaraja X. Perlawanan-perlawanan yang ada dapat dipadamkan Belanda.
Bentuk perlawanan fisik, dengan mengangkat senjata dan perang belum mampu mengusir Belanda dari Nusantara. Hal ini karena belum adanya koordinasi perlawanan antara daerah yang satu dengan yang lain. Strategi pecah belah Belanda mampu melokalisir perlawanan sehingga mudah untuk dipadamkan.

Perjuangan di awal abad 20 mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya perlawanan banyak mengggunakan perang maka setelah era ini perlawanan beralih ke jalur diplomasi melalui organisasi, era ini lebih dikenal dengan era pergerakan nasional. Sebelum beranjak membahas perlawanan melalui berbagai organisasi terlebih dahulu kita bahas mengenai perbedaan perlawanan sebelum dan perlawanan sesudah 1908 atau era pergerakan nasional.
Untuk lebih memahami karakter perjuangan sebelum dan sesudah tahun 1908, perhatikan paparan berikut ini.
- Sebelum Tahun 1908 dipimpin raja atau bangsawan dan tokoh agama, sedangkan setelah 1908 dipimpin dan digerakkan kaum terpelajar.
- Sebelum Tahun 1908 bersifat kedaerahan (lokal), sedangkan setelah 1908 bersifat nasional dan sudah ada interaksi antardaerah.
- Sebelum Tahun 1908 bersifat fisik atau perjuangan dengan mengangkat senjata, sedangkan setelah 1908 perjuangan menggunakan jalur organisasi.
- Sebelum Tahun 1908 terfokus pada pemimpin yang berkarisma, sedangkan setelah 1908 memiliki organisasi dengan adanya kaderisasi.
- Sebelum Tahun 1908 bersifat reaktif dan spontan, sedangkan setelah 1908 memiliki visi secara jelas, yakni Indonesia Merdeka.
Sifat Sifat Perjuangan Melawan Kolonialisme Setelah tahun 1908 Era Pergerakan Nasional
Dipimpin dan Digerakkan Kaum Terpelajar sebagai penggerak Pergerakan Nasional
Setelah tahun 1908, perjuangan banyak digerakkan kaum priyayi dan terpelajar. Munculnya kaum terpelajar pada saat itu tidak terlepas dari politik etis yang membuka keran bagi kaum pribumi untuk dapat mengenyam pendidikan. Awalnya, pendidikan dalam politik etis dibuka dengan tujuan menciptakan tenaga administrasi terdididik dengan gaji yang murah. Namun, dengan adanya sekolah-sekolah milik Belanda seperti HIS, ELS, MULO, dan HBS ternyata dapat melahirkan golongan cendekiawan seperti Supomo, Suwardi Suryaningrat, Sukarno, Moh. Hatta, dan Sutan Syahrir. Kaum cendekia ini ada yang berjuang secara kooperatif seperti Sukarno dan lainnya.
Sifat Perjuangan Pergerakan Nasional berskala Nasional dan Sudah Ada Interaksi Antar Daerah.
Setelah tahun 1908, kolonial Belanda mencanangkan penjajahannya di Indonesia dalam konsep Pax Netherlandica. Sistem Pax Netherlandica merupakan sistem politik penguasaan seluruh negeri. Salah satu upaya yang diambil dengan mengirim pasukan militer ke daerah yang belum dikuasai di Nusantara. Keberhasilan sistem politik Pax Netherlandica berdampak pada penyatuan rakyat Indonesia dalam perasaan senasib sepenanggungan, yaitu sama-sama dijajah Belanda. Hal inilah yang memicu persatuan yang pada akhirnya melahirkan kesadaran sebagai suatu bangsa atau kesadaran nasional. Kesadaran berbangsa ini tidak terlepas dari peran kaum terpelajar dan terdidik.
Perjuangan Pergerakan Nasional Menggunakan Jalur Organisasi.
Meskipun perjuangan dengan senjata dilakukan secara sporadis, tetapi pada dasarnya setelah tahun 1908, perjuangan sudah menggunakan jalur organisasi. Banyak cara dalam berjuang secara organisatoris, misalnya diplomasi, kampanye lewat media radio dan 90 surat kabar, pidato di lapangan terbuka (rapat akbar), dan ada yang menolak bekerja sama dengan kolonial Belanda. Perjuangan dengan cara organisasi dikarenakan bangsa kita sudah mulai sadar bahwa jika berjuang dengan senjata tidak mungkin menandingi kecanggihan senjata yang dimiliki penjajah. Terbukti, keberhasilan kita mempertahankan kemerdekaan adalah karena tokoh-tokoh pejuang Indonesia menyeimbangkan antara perjuangan secara militer dan perjuangan melalui diplomasi.
Memiliki Organisasi dengan Adanya Kaderisasi Sebelum tahun 1908, perjuangan pada umumnya tergantung pada munculnya satu atau beberapa tokoh sehingga jika tokoh tersebut gugur atau ditangkap, dengan mudah kolonial memadamkan api perjuangan. Setelah tahun 1908, perlawanan tergantung pada organisasi-organisasi pergerakan dengan kaderisasi yang sudah rapi. Dengan demikian, jika pionir wafat, maka perjuangan tetap terjaga keberlangsungannya. Contohnya dengan wafatnya Jenderal Sudirman pada usia 34 tahun, perjuangan diteruskan oleh penggantinya, yakni jenderal Gatot Subroto.
Memiliki Visi Secara Jelas, yakni Indonesia Merdeka. Sebelum tahun 1908, perjuangan raja-raja lokal dilatarbelakangi oleh monopoli perdagangan atau penguasaan daerah yang dianggap melecehkan martabat dan harga diri penguasa daerah. Setelah tahun 1908, munculnya organisasi-oganisasi pergerakan dilatarbelakangi satu misi dan visi yang jelas, yakni Indonesia menuju kemerdekaan. Walaupun organisasi-organisasi kepemudaan tersebut bersifat sosial budaya, tetapi lambat laun berubah menjadi organisasi politik dengan tujuan mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
Faktor Internal dan Eksternal Lahirnya Organisasi Pergerakan Nasional
Ada beberapa faktor yang memicu gerakan nasionalisme di Indonesia, baik bersifat internal (dari dalam negeri) maupun bersifat eksternal (dari luar negeri). Untuk lebih jelasnya, ikutilah paparan berikut ini.
Pembentuk Pergerakan Nasional dari faktor Internal (dari Dalam Negeri)

- Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Politik Akibat Penjajahan. Hal seputar sikap penindasan, kekejaman terhadap rakyat, eksploitasi, dan ketidakadilan Pemerintah Kolonial telah menciptakan kebencian dan kekecewaan yang kemudian memicu perlawanan terhadap penjajah.
- Munculnya Kaum Terpelajar Kebijakan politik etis gagasan Van Deventer mempunyai prinsip dasar bahwa Pemerintah Kolonial memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki taraf hidup rakyat pribumi. Pada kenyataannya niat dasar moral itu diselewengkan guna mendidik para pribumi agar penjajah memperoleh tenaga administratif yang cerdas dan bergaji murah. ternyata dengan adanya pendidikan itu muncul para pelajar yang terdidik dengan wawasan lebih luas. Setelah pelajari berbagai perjuangan kemerdekaan bangsa lain, maka tumbuh kesadaran dalam diri mereka bahwa setiap bangsa adalah sederajat dan berhak merdeka, lepas dari belenggu penjajahan bangsa lain.
- Motivasi Kejayaan Bangsa pada Masa Lampau Tumbuhnya kesadaran akan nasib bangsa dan rakyatnya salah satunya tercipta atas kesadaran masa lalu. Hampir mirip seperti Renaisance di Eropa, kesadaran akan nasib bangsa timbul ketika menyadari bahwa di masa lalu kita memiliki masa yang gemilang. Tumbuh kesadaran dari para aktivis pergerakan bahwa bangsa ini pernah menjadi bangsa yang besar, yakni ketika kejayaan Sriwijaya (Palembang) dan Majapahit (Jawa Timur) yang dapat mempersatukan berbagai wilayah, bahkan kekuasaannya melebihi Nusantara, yakni dari Selat Malaka sampai Tanah Genting Kra di Thailand. Kejayaan ini dapat memotivasi bahwa bangsa ini mempunyai potensi menjadi bangsa yang mandiri dan besar seperti halnya Sriwijaya dan Majapahit.
Faktor Eksternal (Pengaruh dari Luar Negeri)
- Keberhasilan Pergerakan Nasional di Negara-negara Lain. Keberhasilan pergerakan di Asia dan Afrika seperti Cina, India, Filipina, Turki, dan Mesir membangkitkan semangat para kaum terdidik untuk berjuang sehingga dapat menikmati keberhasilan yang sama dengan mereka.
- Kemenangan Jepang Terhadap Rusia. Perang tahun 1905 menyadarkan bahwa bangsa Barat (ras Kaukasoid) bukanlah bangsa yang superior segala-galanya terhadap bangsa Timur (ras Mongoloid) karena ternyata bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa Eropa.
- Masuk dan Berkembangnya Paham Baru di Eropa dan Amerika. Paham seperti liberalisme (kebebasan, kesetaraan derajat manusia, dan supremasi hukum) yang dibawa T.S. Raffles, kebebasan-kesetaraan yang dikampanyekan Napoleon Bonaparte, dan paham nasionalisme yang terus menggema ke seluruh dunia menumbuhkan kesadaran bahwa setiap bangsa berhak untuk merdeka.

Dari berbagai faktor di atas, kemudian dimulailah era pergerakan nasional. Era pergerakan nasional dimulai ketika organisasi Budi Utomo didirikan oleh golongan intelektual di Jawa, dengan tujuan memperluas akses pendidikan bagi rakyat pribumi.