Soe Hok Gie merupakan pribadi yang cerdas, berani, dan peduli terhadap sesama. Sejak masa sekolah menengah, nilai-nilainya selalu bagus. Di jurusan, Hok Gie termasuk mahasiswa yang pandai. Ia merupakan salah satu mahasiswa yang menonjol di dalam maupun di luar kelas, dalam bidang akademik maupun non akademik. Ia kerap mentertir teman-temannya yang hendak ujian. Hok Gie sering menjadi pembicara dalam berbagai diskusi yang diselenggarakan di kampus. Juga dipercaya oleh rekan-rekannya menjadi ketua senat mahasiswa FSUI di tahun 1967.
Kecerdasan Hok Gie terlihat pula ketika memimpin aksi demonstrasi mahasiswa FSUI. Cara-cara demonstrasi yang kreatif dengan melakukan long march, demonstrasi dengan naik sepeda keliling kota, lahir dari ide Hok Gie.[1] Hok Gie juga selalu mengupayakan aksi demonstrasi yang damai, menghindari sejauh mungkin aksi yang berujung konfrontasi maupun kerusuhan. Sebab Hok Gie sadar, bahwa pergerakan mahasiswa akan selalu diganggu oleh penyusup, provokator dari pihak lawan yang mencoba mengarahkan aksi demonstrasi menuju aksi kekerasan dan rasialisme.[2]

Keberanian Hok Gie terlihat dari aksi-aksi demonstrasinya di era tahun 1966. Hok Gie menggalang kekuatan mahasiswa khususnya dari kampus Rawamangun, bergerak dalam aksi demonstrasi. Bulan Februari-Maret 1966, ketika aksi demonstrasi mulai menjurus pada konfrontasi dengan militer dan pendukung Soekarno, Hok Gie tetap bertahan di kampus UI bersama mahasiswa-mahasiswa militan lainnya.. Desakan untuk kembali ke kelas dan meninggalkan aksi demonstrasi makin meningkat. Hok Gie menyatakan bahwa segala bentuk kompromi politis tidak akan diterimanya.
“Saya pribadi, akan tetap mogok kuliah. Semua orang yang berpikir sederhana mesti menyetujui pandangan saya. Kita harus terus berjuang, perjuangan masih panjang, jalan masih jauh, pengorbanan masih diminta dari kita. Kita tidak boleh mundur karena alasan-alasan politis, karena perhitungan-perhitungan politik. Saya akan tetap menyerukan mogok kuliah, dengan segala resiko dan konsekuensinya.”[3]
Hok Gie bersama mahasiswa militan lainnya, terutama mahasiswa militan dari Bandung dan mahasiswa dari unsur HMI dan Somal terus melakukan desakan kepada pemerintahan Soekarno untuk segera memenuhi tiga tuntutan mahasiswa.[4] Pada 24 Februari dalam sebuah aksi demonstrasi, terjadi insiden yang menewaskan Arif Rahman Hakim.[5] Insiden ini menjadi titik balik bagi perjuangan mahasiswa. Aksi demonstrasi semakin meningkat, mahasiswa membentuk laskar Arif Rahman Hakim yang merupakan kumpulan mahasiswa-mahasiswa militan pada tanggal 4 Maret 1966.[6]

Keberanian Hok Gie juga terlihat lewat tulisan-tulisan yang ditulisnya di berbagai media nasional maupun lokal. Kritik-kritik terhadap pemerintahan Soekarno yang otoriter, korup dan amoralnya pejabat dan menteri. Kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, kritik terhadap kondisi almamater, kritik terhadap pembunuhan massal simpatisan PKI, juga tahanan politik PKI.[7] Tidak hanya melalui media cetak, Hok Gie juga kerap mengeluarkan pemikiran lewat media diskusi dan radio, diantaranya lewat GDUI dan Radio UI. Kritikan-kritikan juga ia tulis di buku catatan harian pribadinya.
Selain cerdas dan berani, Hok Gie juga merupakan sosok yang peduli. Peduli terhadap orang-orang terdekatnya, peduli terhadap nasib pergerakan mahasiswa, dan peduli terhadap kehidupan bangsa. Kepada teman-temannya yang sedang sakit atau dalam kesusahan, Hok Gie selalu berusaha membantu.[8] Hok Gie juga peduli terhadap nasib pergerakan mahasiswa, di mana Ia tak segan memberi kritikan pada teman sesama aktivis jika terdapat tindakan yang menyimpang.[9]
Soe Hok Gie tumbuh besar di keluarga keturunan cina yang tidak terlalu memegang erat tradisi hidup leluhur mereka. Ketika sebagian besar keluarga besar Hok Gie berprofesi sebagai pedagang, ayahnya justru hidup dari upah menulis dan menjadi editor berbagai surat kabar di berbagai daerah. Keluarga Hok Gie juga tidak menggunakan bahasa mandarin sebagai bahasa komunikasi dalam keseharian mereka. Berangkat dari keadaan ini Hok Gie tumbuh menjadi sosok yang terbuka dalam pergaulan.

Latar belakang ayahnya yang dekat dengan dunia sastra dan jurnalisme membuat Hok Gie memiliki ketertarikan dalam hal sastra juga jurnalisme. Sejak kecil Ia terbiasa membaca buku-buku sastra, sejarah, juga filsafat yang jarang dibaca oleh anak-anak seumurannya. Hok Gie juga gemar membaca koran. Wawasannya tentang perkembangan politik, dan kondisi sosial bangsa cukup mumpuni. Hal ini ditunjang pula oleh pergaulannya yang luas dan kepekaan sosial yang tinggi dalam melihat berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia.[10]
Hok Gie memiliki pergaulan yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat termasuk masyarakat etnis cina. Dia dikenal dekat dengan tokoh-tokoh etnis cina seperti Shindunata, Ong Hok Ham yang merupakan rekan seperjuangan di LPKB dalam memperjuangkan ide asimilasi bagi warga keturunan cina. Juga dengan tokoh seperti Yap Tiam Hien, P.K. Owjong dll yang merupakan tokoh terkemuka masyarakat etnis cina. Dalam pergaulan politik, ia menjaga pertemanan dengan banyak orang terutama dari dua organisasi yang pernah diikutinya yakni Gemsos dan GP. Hok Gie diantaranya dekat dengan Soemitro Djoyohadikusumo, Soedjatmoko, Zainal Zakse, Rahman Tolleng, Boeli Londa, Jopie Lasut, Henk Tombokan dan banyak lainnya.
Dalam pergaulan di dunia mahasiswa, Hok Gie dikenal luas sebagai salah satu pemimpin mahasiswa. Bersama tokoh-tokoh mahasiswa lain seperti Marsilam Simanjuntak, Yozar Anwar, Nono Anwar Makarim, Hakim Sorimuda, Herman Lantang, Hok Gie aktif dalam aksi-aksi demonstrasi tritura tahun 1966. Di lingkungan kampus, Hok Gie dikenal sebagai pemimpin mahasiswa independen yang menolak adanya campur tangan organisasi ekstra universitas dalam kehidupan bermahasiswa. Hok Gie juga dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas, kerap diminta untuk berbicara dalam diskusi-diskusi maupun seminar-seminar.[11]
Kehidupan pribadi Hok Gie jarang terungkap karena Hok Gie tidak terlalu sering menceritakan cerita hidupnya pada orang lain. Cerita kehidupan Hok Gie baru bisa ditelusuri ketika buku catatan hariannya dibukukan dan diterbitkan. Dari buku catatannya, diketahui tentang keluarga Hok Gie, juga kehidupan pribadi Hok Gie. Hok Gie sempat dekat dengan beberapa wanita.[12] Salah satu diantaranya bahkan sudah cukup serius. Sayangnya hubungan itu kandas karena keluarga wanita tidak menyetujui hubungan tersebut.[13]

[1] Soe Hok Gie, op.cit., hlm 130.
[2] ibid., hlm. 143.
[3] Tanggapan Soe Hok Gie atas permintaan rektor UI kepada mahasiswa untuk kembali ke kelas dan menghentikan aksi demonstrasi. John Maxwell, op.cit., hlm. 199.
[4] Hok Gie bersama mahasiswa militan seperi Marsilam Simanjuntak dari KAMI Jaya, Elyas dari KAMI Pusat, Fahmi Idris, Hakim Sorimuda dari UI, Fred Hehuwat dari ITB, bahu membahu terus bertahan di kampus UI. John Maxwell, op.cit., hlm. 207-214.
[5] Pada sebuah aksi demonstrasi di lapangan merdeka timur, mahasiswa hendak menuju istana presiden. Banyak dari mahasiswa yang berhasil mendobrak penjagaan kemudian berlari menuju istana presiden. Saat mahasiswa mendekat ke istana presiden, pengawal istana menembakkan senjata ke arah mahasiswa yang berhamburan mendekat ke istana negara. Dua orang tertembak, Arif Rahman Hakin dari UI dan Zubaedah pelajar sekolah menengah. ibid., hlm. 206.
[6] ibid., hlm. 216.
[7] Kritik-kritik ini dituliskan dalam beberapa surat kabar nasional maupun lokal. Lihat Stanley dan Aris Santoso, op.cit., hlm 161, 181, 191, 206, 213.
[8] Rudi Badil, op.cit., hlm. 175.

[9] Diantaranya kritikan-kritikan terhadap rekan-rekannya sesama aktivis demonstrasi tahun 1966 yang menerima tawaran menjadi anggota legislatif. Ketika rekan sesama aktivis di legislatif mulai menyimpang, dengan plesiran ke luar negeri, mengambil kredit mobil dll, Hok Gie tak segan untuk memberikan kritik. Tentunya kritik dengan niat yang baik. John Maxwell, op.cit., hlm. 363.
[10] John Maxwell, op.cit., hlm. 47.
[11] Rudi Badil, op.cit., hlm. 172
[12] Dalam catatan harian yang telah dibukukan, nama wanita yang sempat dekat dengan Hok Gie disamarkan. Terdapat tiga wanita yang pernah dekat, yakni Maria, Rina dan Sunarti. Diantara ketiga wanita ini Maria agaknya merupakan wanita yang paling dekat dengan Hok Gie. Dalam buku Sekali Lagi, terdapat pengakuan dari Kartini Syahrir bahwa dirinya adalah wanita yang dimaksud sebagai Sunarti. ibid., hlm. 142
[13] John Maxwell, op.cit., hlm. 353.



















