Kolonialisme VOC di Kepulauan Banda Maluku

Kepulauan Banda Neira
Daftar Isi Artikel

Kepulauan Banda. Nama ini membangkitkan bayangan surga tropis dengan laut biru jernih dan aroma pala yang semerbak. Di masa lampau, gugusan pulau kecil di Maluku Tengah ini adalah pusat ekonomi dunia, satu-satunya tempat di bumi di mana pohon Pala (Myristica Fragrans) tumbuh subur. Buah Pala dan Fuli (Bunga Pala) bukan sekadar bumbu dapur, mereka adalah emas hitam. Pala merupakan komoditas mewah yang harganya bisa menyaingi emas di pasar Eropa. Kekayaan inilah yang membawa kejayaan sekaligus malapetaka bagi Banda.

Menelusuri jejak kolonialisme Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda, di Kepulauan Banda. Kita akan melihat bagaimana surga rempah ini berubah menjadi medan pertempuran berdarah, puncak kekejaman, dan saksi bisu salah satu genosida paling awal dalam sejarah kolonialisme di Nusantara. Mengungkap latar belakangnya, kronologi penaklukan yang sistematis, perlawanan gigih rakyat Banda, hingga dampak tragis yang membentuk Banda hingga hari ini, semua berdasarkan catatan sejarah yang ada.

Awal Mula Kolonialisme VOC di Kepulauan Banda

Sejarah Kepulauan Banda tidak bisa dilepaskan dari kolonialisme VOC yang bertahan selama beberapa waktu. Penyebab datangnya VOC sendiri terutama karena Banda kaya akan rempah terutama Pala dan bunga Pala. Meski begitu, Banda sejatinya adalah tempat yang penuh damai dan makmur. Banda sudah memiliki aktifitas perdagangan yang aktif dengan wilayah lain.

Pala produksi Kepulauan Banda
Pala produksi Kepulauan Banda

Kepulauan Banda Sebelum Kedatangan VOC

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Kepulauan Banda bukanlah sekadar pulau terpencil. Wilayah ini merupakan simpul penting dalam jaringan perdagangan maritim Asia yang ramai. Selama berabad-abad, pedagang dari Jawa, Melayu, Cina, Arab, dan India telah singgah, menukar beras, tekstil, dan barang lainnya dengan pala dan fuli yang sangat berharga. Pala dan fuli memiliki banyak kegunaan, mulai dari penyedap masakan, bahan pengobatan, hingga campuran parfum dan kosmetik.

Masyarakat Banda saat itu hidup makmur dari perdagangan bebas. Struktur sosial mereka unik, tidak berbentuk kerajaan terpusat seperti di banyak wilayah Nusantara lainnya. Kepemimpinan berada di tangan para “Orang Kaya” atau saudagar, tokoh-tokoh masyarakat atau pemimpin kelompok komunal (negeri) yang dihormati. Keputusan penting, termasuk urusan dagang, seringkali diambil melalui musyawarah dewan Orang Kaya atau saudagar. Sistem yang lebih egaliter ini memungkinkan mereka memiliki hak penuh untuk menentukan jumlah produksi dan nilai jual pala. Interaksi dagang yang intens juga menjadikan Banda sebagai masyarakat yang multikultur sejak awal, tempat bertemunya berbagai etnis dan budaya.

Kedatangan Bangsa Barat di Kepulauan Banda

Ketertarikan Eropa pada rempah-rempah sudah berlangsung lama, namun jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 membuat jalur perdagangan darat terputus dan harga rempah melambung tinggi. Hal ini membuat perdagangan Eropa terancam karena mahalnya harga harga komoditas yang berasal dari Asia. Ini memicu era penjelajahan samudra oleh bangsa-bangsa Eropa untuk mencari sumber rempah langsung.

Benteng Belgica Banda
Benteng Belgica Banda

Bangsa Portugis adalah yang pertama mencapai Banda pada awal abad ke-16, sekitar tahun 1512, setelah menaklukkan Malaka. Meskipun mereka berdagang, upaya mereka untuk membangun benteng dan memaksakan monopoli selalu ditolak oleh Orang Kaya atau Saudagar Banda. Tidak hanya Portugis, Spanyol juga turut datang ke Kepulauan Maluku untuk mencari komoditas rempah.

Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, giliran Belanda dan Inggris yang tiba. Pelaut Belanda pertama tiba di Banda pada tahun 1599, awalnya disambut baik karena dianggap bisa membantu mengusir Portugis. Tak lama kemudian, pada tahun 1602, Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah kongsi dagang dengan hak istimewa (hak oktroi) dari pemerintah Belanda untuk berdagang, membuat perjanjian, membangun benteng, bahkan berperang.

Di sisi lain, Inggris melalui EIC (East India Company) juga mendirikan pos dagang, terutama di Pulau Run dan pulau Ai, menjadi pesaing utama VOC. Persaingan sengit antara VOC dan EIC inilah yang kemudian semakin memperkeruh suasana di Banda. Meski kekuatan VOC lebih digdaya dibandingkan kekuatan EIC di Banda, namun EIC terus berupaya menyaingi VOC. EIC mengambil strategi mendukung kerajaan-kerajaan yang berseteru dengan VOC.

Awal Kolonialisme VOC di Kepulauan Banda

Hubungan yang awalnya tampak bersahabat antara Belanda dan Banda berubah drastis. Berbeda dengan pedagang Asia atau Portugis sebelumnya, VOC datang dengan ambisi monopoli mutlak atas perdagangan pala. Mereka tidak bisa menerima sistem perdagangan bebas yang dianut masyarakat Banda. VOC berupaya menghilangkan perdagangan bebas di Banda.

Pada April 1609, armada VOC di bawah pimpinan Laksamana Pieter Willemszoon Verhoeff tiba di Banda Neira. Verhoeff secara paksa memulai pembangunan Benteng Nassau di Neira, mengabaikan protes keras para Orang Kaya. VOC juga menuntut agar rakyat Banda hanya menjual pala kepada mereka dengan harga yang ditetapkan VOC. Tentu saja, tuntutan ini ditolak karena mengancam kemerdekaan ekonomi dan jalur pasokan pangan masyarakat Banda yang bergantung pada perdagangan barter dengan pedagang lain.

Rempah-rempah yang banyak diperdagangkan di Jalur Perdagangan Nusantara
Rempah-rempah yang banyak diperdagangkan di Jalur Perdagangan Nusantara

Ketegangan memuncak. Pada akhir Mei 1609, para Orang Kaya menjebak Verhoeff dan beberapa perwiranya dalam sebuah perundingan palsu di hutan. Verhoeff dan sekitar 46 orang Belanda tewas dalam peristiwa ini. Salah satu saksi mata pembunuhan ini adalah seorang pegawai muda VOC bernama Jan Pieterszoon Coen, yang kelak akan menjadi aktor utama dalam tragedi Banda yang lebih besar.

Pembunuhan Verhoeff menjadi justifikasi bagi VOC untuk melakukan tindakan kekerasan balasan. Meskipun sempat tercapai perjanjian damai pada Agustus 1609 yang di atas kertas mengakui monopoli VOC, rakyat Banda terus mengabaikannya dan tetap berdagang dengan Inggris yang menawarkan harga lebih baik. Benteng Nassau pun berdiri kokoh, menjadi simbol awal dominasi VOC.

VOC Menguasai wilayah Kepulauan Banda

Ketidakpatuhan rakyat Banda membuat petinggi VOC (Heeren XVII) geram. Pada tahun 1614, mereka memutuskan untuk menaklukkan seluruh Kepulauan Banda dengan kekerasan, apapun risikonya.

Pertempuran Pulau Ay (1615-1616) VOC menyerang Kepulauan Banda

Pulau Ay, yang berada di bawah perlindungan Inggris, menjadi target awal. Serangan pertama VOC pada 1615 di bawah Gubernur Jenderal Gerard Reynst sempat berhasil merebut benteng, namun serangan balik malam hari oleh Inggris dan penduduk Ay berhasil memukul mundur Belanda dan menewaskan 200 tentara VOC. Reynst meninggal karena sakit tak lama kemudian.

Pada April 1616, VOC kembali menyerang dengan kekuatan lebih besar di bawah Jan Dirkszoon Lam. Setelah perlawanan sengit, Ay berhasil ditaklukkan. Lam memerintahkan pembantaian penduduk yang melawan, sementara ratusan lainnya tenggelam saat mencoba melarikan diri ke Pulau Run. VOC kemudian membangun Benteng Revengie (Fort der Wrake – Benteng Pembalasan) di Ay sebagai peringatan.

Pertempuran Pulau Run (1616-1620) VOC Menyerang Kepulauan Banda

Pulau Run menjadi basis pertahanan terakhir Inggris di Banda. Pada Desember 1616, pedagang Inggris Nathaniel Courthope tiba dan membangun benteng, serta membuat perjanjian dengan penduduk yang mengakui Raja Inggris James I sebagai penguasa pulau.

VOC segera mengepung benteng ini. Dengan dukungan penduduk lokal, Courthope bertahan selama hampir empat tahun, namun ia akhirnya tewas dalam pertempuran pada tahun 1620, dan Run jatuh ke tangan VOC. Setelah merebut Run, VOC membunuh atau memperbudak semua pria dewasa, mengasingkan wanita dan anak-anak, serta menebangi semua pohon pala di pulau itu agar tidak bernilai lagi bagi Inggris.

Penaklukan Ay dan Run menunjukkan brutalitas VOC yang semakin menjadi. Namun, penduduk di pulau terbesar, Lontor (Banda Besar), tetap menentang monopoli dan melanjutkan perdagangan dengan pihak lain. Hal ini membuat murka Jan Pieterszoon Coen, yang kini telah menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC.

Jan Pieterszoon Coen, yang menyimpan dendam pribadi atas pembunuhan Verhoeff, melihat penolakan berkelanjutan rakyat Banda sebagai ancaman serius terhadap ambisi monopoli VOC. Pada Oktober 1620, ia menulis surat kepada Heeren XVII, menyatakan bahwa satu-satunya cara mengatasi masalah ini adalah “menaklukkan kembali Kepulauan Banda dan menghuninya dengan suku bangsa lain”. Heeren XVII menyetujui rencana ini.

Pertempuran Akhir di Pulau Lontor Kepulauan Banda Besar

Pada akhir tahun 1620 atau awal 1621, Coen memimpin armada perang terbesar yang pernah dikirim VOC ke Banda. Armada ini terdiri dari 13 kapal besar, 3 kapal kecil, dan 6 perahu layar , membawa sekitar 1.655 tentara Eropa , 250 tentara dari garnisun Banda , 286 pekerja paksa dari Jawa , serta tentara bayaran Jepang (Ronin) dan Siau. Total kekuatan mendekati 2000 orang, belum termasuk awak kapal.

Ilustrasi lukisan pembantaian banda
Ilustrasi lukisan pembantaian banda

Target utama Coen adalah Pulau Lontor (Banda Besar), pusat perlawanan terakhir rakyat Banda. Setelah tiba di Benteng Nassau pada Februari 1621 dan melakukan pengintaian , Coen melancarkan serangan besar-besaran pada 11 Maret 1621. Dengan taktik pendaratan di banyak titik secara bersamaan , pasukan VOC berhasil mengejutkan pertahanan Lontor dan dengan cepat menguasai wilayah pesisir. Penduduk Lontor terpaksa mundur ke perbukitan di tengah pulau.

Keesokan harinya, 12 Maret 1621, menyadari kekuatan mereka tak sebanding, para Orang Kaya Lontor mengirim utusan damai kepada Coen. Mereka setuju untuk tunduk dengan syarat hak milik, agama, keluarga dihormati, dan tidak ada kerja paksa. Coen menyetujui, namun menambahkan tuntutan agar semua benteng dirobohkan, senjata diserahkan, dan anak laki-laki dijadikan sandera. Para Orang Kaya menyanggupi.

Namun, “perdamaian” ini hanyalah siasat Coen. Pada 21 April 1621 , dengan dalih adanya insiden kecil (lampu minyak jatuh di masjid) yang dianggap sebagai serangan , Coen memerintahkan penangkapan sekitar 40-50 Orang Kaya yang dituduh berkomplot. Pada 8 Mei 1621, para Orang Kaya ini dieksekusi secara brutal oleh tentara bayaran Jepang. Kepala mereka dipenggal dan tubuh mereka dipotong-potong, lalu dipertontonkan kepada publik.

Pembantaian para pemimpin ini tidak menghentikan perlawanan. Rakyat Lontor yang tersisa terus bertempur secara gerilya. Coen kemudian memerintahkan operasi sapu bersih: desa-desa dihancurkan, tanaman pangan dimusnahkan. Pertempuran sengit berlangsung beberapa bulan. Banyak penduduk Lontor memilih mati kelaparan atau melompat dari tebing daripada menyerah kepada kekejaman VOC.

Kepulauan Banda di Bawah Kolonialisme VOC

Peristiwa 1621 adalah genosida. Dari perkiraan populasi Kepulauan Banda sekitar 15.000 jiwa sebelum invasi Coen, hanya sekitar 1.000 orang yang tersisa. Sejarawan memperkirakan 90% penduduk asli Banda tewas, diperbudak, atau terusir. Sekitar 2.500 orang tewas karena kelaparan dan penyakit , 1.700 orang dijadikan budak , ratusan melarikan diri ke pulau-pulau sekitar seperti Kei dan Seram , dan sisanya tewas dalam pertempuran atau bunuh diri. Kepulauan Banda yang tadinya ramai menjadi nyaris kosong.

Setelah memusnahkan penduduk asli, Coen dan VOC segera melaksanakan tahap kedua rencana mereka: mengubah Banda menjadi perkebunan pala raksasa yang sepenuhnya dikontrol VOC.

Sistem Perkebunan dan Perbudakan di Kepulauan Banda Oleh VOC

Aktivitas d sebuah Perkebunan Pala (Perk) di Banda Neira | Sumber: Tropenmuseum
Aktivitas d sebuah Perkebunan Pala (Perk) di Banda Neira | Sumber: Tropenmuseum

Sistem perkebunan yang diterapkan VOC salah satunya adalah menggunakan sistem Perken. Sistem Perken yaitu lahan-lahan produktif di Banda dibagi menjadi 68 kavling besar yang disebut perken (34 di Lontor, 31 di Ay, 3 di Neira). Setiap Perk memiliki luas sekitar 12-30 hektar. Lahan lahan inilah yang kemudian ditanami Pala. Setiap sistem Perken akan dikelola oleh Perkeniers.

Perkeniers adalah orang yang diberi hak pengelolaan Perken. Perkeniers biasanya adalah pegawai VOC, tentara, atau orang Eropa lainnya yang setia kepada Kompeni. Mereka bukanlah pemilik tanah, melainkan penyewa atau pemegang lisensi dari VOC.

Untuk menggarap perken-perken ini, VOC mendatangkan ribuan budak. Awalnya, setiap perk dialokasikan 25 budak. Budak-budak ini berasal dari berbagai penjuru Nusantara (Jawa, Bali, Makassar, Buton, dll.), India, bahkan Cina. Sedikit penduduk asli Banda yang tersisa juga diperbudak dan dipaksa mengajari para pendatang baru cara menanam Pala. Kondisi kerja para budak sangat buruk, angka kematian tinggi, sehingga VOC harus terus-menerus mengimpor budak baru untuk menjaga jumlah tenaga kerja.

Proses ini menciptakan komposisi masyarakat Banda yang benar-benar baru. Masyarakat ini terdiri dari campuran orang Eropa (perkeniers dan pejabat VOC), budak dari berbagai etnis, serta kelompok lain seperti pedagang Cina dan Arab yang kemudian mengisi celah ekonomi. Perkawinan antar-etnis, termasuk antara perkenier Belanda dengan perempuan lokal (seringkali dari kalangan budak yang telah dikristenkan), turut membentuk budaya mestizo. Identitas “Orang Banda” yang baru ini terbentuk bukan berdasarkan garis keturunan asli, melainkan ikatan pada tanah Banda dan kontribusi terhadap komunitas.

gemini generated image lmdschlmdschlmds

Registrasi dan Login

Untuk mengakses kursus secara penuh, registrasikan dirimu di sini!

Mulai Belajar di Tamansiswa.id