Indonesia Pasca Reformasi 1998

Indonesia memasuki era baru ketika reformasi bergulir medio 1998, yang berhasil memaksa Presiden Soeharto berhenti dari jabatan Presiden masa periode ke-7. Berhentinya Soeharto, menandai berakhirnya rezim Orde Baru yang berkuasa hampir 32 tahun. Soeharto kemudian digantikan oleh wakilnya yang naik menjadi Presiden, B.J Habibie.  Naiknya Habibie nyatanya tidak membuat gelombang demonstrasi mahasiswa surut, aksi yang dilancarkan mahasiswa beberapa kali bahkan berujung dengan kekerasan. Salah satu yang menyebabkan korban jiwa adalah peristiwa Semanggi I dan II yang terjadi Bulan November 1998 dan September 1999. Selain tekanan dari mahasiswa, Habibie juga banyak mendapatkan tekanan politik, terutama ketika keputusan melepas Timor-timor disikapi negatif oleh banyak pihak. Banyaknya tekanan yang diarahkan kepada Habibie membuat masa pemerintahan Habibie hanya bertahan satu setengah tahun. Tahun 1999 Habibie tidak mampu mempertahankan jabatannya ketika laporan pertanggungjawabannya ditolak Sidang MPR. Masa Pemerintahan Habibie dilanjutkan oleh Abdurahman Wahid yang merupakan Kyai kharismatik dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Lewat gerbong Partai Kebangkitan Bangsa, Abdurahman Wahid (Gus Dur) maju dalam pemilihan Presiden yang diselenggarakan oleh MPR pada tahun 1999.

Pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur)

Legacy Pemerintahan Presiden Gus Dur